Sunday, March 15, 2015

Love What You Do

College life is very confusing. I often face some hard choices to choose because I always think about the consequences I will take. Sometimes, I think that that is a normal thing happening when adolescence is going to turn into young adult people. However, I still can not accept that thing and it always disrupt my heart. 

College life has two huge choices that I should choose, academic (GPA, seminars, studying, and assignments) or social (organizations and committees). I personally truly honestly incredibly want to choose both of them. However, dilemma is always there. Because of my disorder (OCD), I always want to do something perfectly. I can always focus on one thing. Then, I prioritized academic over social. 

Most of the time, I feel annoyed by my OCD. OCD makes me to always do everything I want perfectly although I can not do it. I have decided to prioritized academic, yet I can not resist myself to join an organization or some committees. In recruitment process, I said many optimistic answer to the interviewer and they were amazed and hopeful of myself. That time, after I gave my answers, I felt very hopeful, too. Things get escalated very quickly when I am in the middle of the process. I feel very confused of managing my time to academic and social. I always feel confused whenever I get a group assignment, there are some meetings and organizational tasks needed to be done. I feel frustrated too when I know that my lecture orders me to always read the next chapter prior to the next class. It takes a lot of my time. I become more frustrated when I do not get permission to leave organization or committee meetings because of assignments and studying. I come to be unable to handle it.

One day, I vented to my one of close friends about this problem. He has quite good GPA and joins an organization, too. I am really curious of how he can do those two things together. He used to be very funny and sort of childish person. Now, he is grown-up and I am so pathetic. After venting so much, he gave a solution in a very short sentence:

This sentence settles my dilemma now. What I get from this sentence is not that I should love all unwelcome things I do. What I get is that I should carry on what I am doing now, then I should love it as well. I only can do something useful on academic things and makes me enjoyed. All this time, I evidently care too much about what other people say about me. This really influences my life a lot.

Since first semester, seniors have always shouted about "academic is not that very important". I evidently let it enter to my head and ruined my mind. Ever since, I always tried to join some committees and an organization (for now) and make something useful for them. I really put a lot of my effort on that and it seems to be fruitless. That is the power of "always care about what other people say about you".

Now, I reduce that propaganda in my head and try to make it go out of my head. Slowly but sure, I start to be courageous to focus on doing group assignments, individual assignments, studying a lot of chapters, and anything related to academic. In my opinion, focusing on only academic is not completely wrong. Some college students just do that because they think that they are not capable of doing something related to organization or committees. Perhaps, they have tried so many times like myself to join and contribute something on organizations or committees, yet all of their efforts are futile.

I also think that people always want to accomplish something on their lives. I do. In order to do that, some of them take difficult and frustrating ways and others just take bearable and mediocre ways. I take the latter. You should not think that doing something in mediocre ways or in people's comfort zone does not take so much effort. You are wrong! I give all of my efforts on academics. Academics are not my comfort zone. I will always love what I am doing and try not to give any single care to what people say.

God bless you!

Pictures sources:

  • http://mycelium.is/wp-content/uploads/2012/12/Love-What-you-do.jpeg
  • All memes are made by myself using Meme Generator
Read More »

Thursday, March 12, 2015

7 Hal Menyebalkan Ketika Mengikuti Kegiatan Outdoor

Selamat pagi, bloggers. Baru 4 hari absen membuat tulisan di blog terasa seperti vakum menulis di blog selama 1 bulan. Sebenarnya, komitmen saya ketika memulai untuk menulis di blog kembali adalah saya ingin membuat satu tulisan dalam satu hari, atau paling tidak satu tulisan dalam dua hari. Tapi, ternyata perkuliahan di semester 4 ini terlalu kejam, bloggers. Mungkin karena saya terkena OCD, jadi saya dianggap terlalu menganggap perkuliahan ini sangat serius dan egois karena saya hanya fokus terhadap kuliah, belajar, mengerjakan tugas, dan duduk di depan komputer. 

Kali ini saya ingin membagi keluhan saya dan pengalaman saya dalam mengikuti beberapa kegiatan outdoor. Kegiatan outdoor di sini bukan sekadar kegiatan di luar rumah, bukan kuliah, bukan pergi ke rumah teman (please, don't be a herp!). Kegiatan outdoor di sini adalah kegiatan yang mengharuskan saya untuk membawa beberapa pakaian, peralatan pribadi, dan alat-alat yang harus dibawa untuk tinggal di suatu tempat antah-berantah selama beberapa hari. 


Mungkin karena saya seorang OCD (lagi), saya sungguh tidak nyaman dengan kegiatan seperti ini. Saya jadi tidak bisa melakukan semua hal yang menurut saya bisa saya lakukan dengan sempurna dan sesuai dengan harapan saya. Ditambah lagi, karena saya terkena SAD ringan (walaupun ringan, tetap saja sangat mengganggu), saya agak tidak tahan dan susah beradaptasi jika tidak ada teman dekat saya yang ikut kegiatan outdoor yang saya ikuti.

Saya bikin tulisan ini karena sebenarnya saya bakal pergi dari surga (baca: rumah, kamar, dan PC) selama 3 hari, Jumat sampai Minggu. Entah kenapa saya merasa aneh karena hanya di "tempat" ini, acara outdoornya selalu 3 hari, Jumat sampai Minggu. Biasanya, "tempat-tempat" lain mengadakan acara outdoor hanya selama 2 hari, Sabtu sampai Minggu.

Lalu, berikut ini, saya akan sampaikan beberapa hal yang membuat saya tidak suka acara outdoor di samping penyakit SAD saya.

1. Jumlah tas yang dibawa tidak biasa


Berdasarkan pengamatan saya, teman-teman saya (laki-laki) selalu bisa membawa rata-rata cukup satu tas ketika mereka ikut kegiatan outdoor yang tidak lama (2 hari atau 3 hari). Saya seringkali heran, bagaimana mereka bisa membawa dan memasukkan semua barang-barang yang wajib dibawa ke dalam satu tas saja. Dulu ketika saya masih kuliah di FK, saya pernah mengikuti kegiatan outdoor yaitu semacam bakti sosial. Acara hanya 2 hari, tetapi saya bisa membawa tas yang biasa digunakan untuk berpergian jauh (tas pakaian). Namun, dengan perasaan sangat heran, ada beberapa teman saya bisa membawa tas ransel ukuran sedang. Padahal, kami disuruh membawa banyak sekali peralatan mulai dari alat makan, alat mandi, jas praktikum, pakaian sopan, pakaian bebas, jaket, dsb yang menurut saya sangat besar dan tebal sehingga membutuhkan ruang yang banyak. Mungkin, selama ini, saya bisa berbeda sendiri karena saya aneh atau karena ukuran pakaian-pakaian saya yang terlalu besar. 

2. Waktu untuk kebutuhan privasi yang tidak masuk akal 


Mungkin hal ini hanya terjadi di Indonesia atau di negara-negara lain sama. Ini merupakan hal yang sangat krusial dan menyebalkan. Seringnya, waktu-waktu yang berhubungan dengan mengurus kebutuhan privasi yang sering tidak masuk akal. Misalnya, pesertanya berjumlah 30 orang, diberikan waktu selama 1 jam untuk MCK. Namun, kamar mandinya hanya ada dua, sementara mereka hanya diberikan waktu 1 jam. Padahal, acara selanjutnya menuntut para peserta untuk berpenampilan rapih dan bersih. Are you out of your mind? Sungguh aneh, seolah-olah yang mengadakan acara tidak survey tempat yang tersedia untuk MCK terlebih dahulu dan mencocokkannya dengan jumlah peserta yang diprediksi ikut. Apalagi, saya terkena OCD dan hal-hal krusial seperti ini yang membuat badan saya risih sangat-sangat mengganggu. 

3. Fasilitas privasi yang membeda-bedakan gender


Bayangkan saja ketika sedang memilih indekos untuk laki-laki, pasti harganya sangat mahal kalau ingin memiliki fasilitas yang "normal" seperti di rumah. Berbeda dengan indekos perempuan yang harganya bisa sangat wajar tetapi sudah bisa mendapatkan fasilitas yang "normal". Mungkin ketika kalian membaca poin ini, kalian pasti akan berpikir kalau saya itu lenjeh, alay, metroseksual, cemen, cupu, aneh, atau hal buruk yang lainnya. Seperti yang saya katakan di atas, saya memang aneh. Saya memang laki-laki yang aneh. Kembali ke topik! Menurut saya, kebutuhan privasi itu sangat mutlak untuk bisa terpenuhi. Konteks di sini bukan ketika kita sedang dalam kegiatan militer dan pramuka. Coba nih, bayangkan contoh ini, kamar mandi laki-laki tidak menyediakan tempat untuk menaruh pakaian yang hendak dipakai dan sudah dipakai atau bahasa Jawanya cantelan. Bagaimana kalian bisa memenuhi kegiatan privasi kalian dengan tenang? Saya bisa panik dan mood saya langsung jelek ketika mendapat kamar mandi yang bisa membuat saya panik. Contoh lain, laki-laki harus memenuhi kebutuhan privasinya di sungai, sementara perempuan disediakan kamar mandi. Dikira semua laki-laki itu sama atau bagaimana sih? Bagaimana kalau dia OCD seperti saya? 

4. Barang bawaan yang akhirnya tidak terpakai


Ini juga lumayan bikin kesal. Hal ini juga berkaitan dengan poin 1 tadi. Saya sangat kesal jika barang bawaan saya sangat banyak dan membutuhkan lebih dari 1 tas (padahal teman-teman saya bisa membawa dalam 1 tas saja). Mungkin karena acaranya terlalu padat, jadinya ada barang-barang yang tidak dipakai. Ya, walaupun saya memaklumi, tetapi saya pun menyesalkannya. Bagaimana jika barang tersebut ternyata sangat penting di rumah (karena saya tinggal di rumah), orang-orang di rumah sangat membutuhkan barang tersebut, dan saya sudah merengek-rengek untuk meminjam barang tersebut, tapi malah barangnya tidak dipakai? Saya bakal merasa bersalah. Trade-offnya pun ternyata cukup signifikan untuk orang-orang di rumah tapi saya malah tidak memakai barang tersebut. Aktivitas orang-orang di rumah mungkin terhambat dan mungkin mereka bakal marah ketika tahu kalau barang tersebut malah tidak dipakai.

5. Meminjamkan barang kemudian tidak pernah kembali


Kalian pasti akan berpikir kalau saya itu pelit. Well, you have the right to say that way. Tapi, barang yang saya bawa selalu bukan barang yang saya beli dengan uang saya sendiri dan seringkali bukan barang yang digunakan oleh saya sendiri. Contoh saja tikar (peristiwa ini terjadi saat semester 3 ketika sedang masa-masa penyambutan mahasiswa baru). Saya meminjamkan tikar, lalu tikar tersebut hilang dan tidak bisa ditelusuri asal-usul kenapa tikar saya bisa hilang. Agak tidak masuk akal karena tikar bukanlah barang yang kecil. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan tikar yang hilang tersebut karena kami memiliki lebih dari satu tikar. Masalahnya, orang tua saya yang kebakaran jenggot. Mereka sangat perhatian dengan barang-barang kami (yaiyalah, manusia normal). Karena kasus tersebut, akhirnya saya putuskan (secara pribadi) saya tidak meminjamkan barang apapun lagi ketika saya mengikuti kegiatan outdoor. Daripada saya kena masalah, orang tua nantinya bakal mengomeli saya, ya mending saya ambil tindakan preventif ini. Tapi, kalau barang tersebut hanya terdapat satu buah dan ternyata hilang, bagaimana saya tidak kesal? 

6. Mengeluarkan uang lagi untuk membeli barang yang tidak saya punya


Hahaha ini juga sangat menyebalkan. Ketika ikut suatu acara, pasti bakal ada biaya pendaftarannya dan itu biasanya sudah sangat banyak. Saya masih menerima dan memaklumi. Kemudian, saat technical meeting, ada barang-barang yang tidak saya punyai. Di situ saya mulai kesal. Masalahnya, saya tidak suka meminjam barang kepada teman saya karena saya takut kalau saya tidak bisa mengembalikan atau barang yang saya pinjam itu tidak kembali ke teman saya seperti sebelum saya pinjam (tapi saya tidak enggan untuk meminjami barang ke teman saya asalkan teman saya dapat dipercaya). Akhirnya, saya harus beli, kan dan saya harus mengeluarkan uang lagi demi memiliki barang yang harus di bawa sehingga saya tidak bakal kena masalah. Andai saya punya pekerjaan dan pendapatan sendiri, mungkin saya tidak akan terlalu mempermasalahkan ini. Masalahnya, saya masih bergantung sama orang tua dan uang saya itu adalah uang orang tua saya. Terlebih lagi, mereka sudah pensiun dan pendapatan mereka tidak seberapa ketika mereka masih bekerja. Arrgh!

7. Jumlah barang yang harus dibawa yang tidak wajar


Saya sering sekali heran dengan hal yang satu ini. Acara hanya satu malam tapi bawaannya kaya acara enam malam. Hal ini yang sering membuat saya kesal karena saya tahu kalau saya tidak akan bisa membawa semuanya hanya dengan satu tas saja. Alhasil, teman-teman saya keheranan karena saya seperti akan mengikuti acara outdoor tujuh hari. 


Yap, saya memang aneh karena OCD saya. Saya memang sangat saklek. Terima kasih sudah membaca, bloggers. Ada pendapat atau sanggahan terhadap tulisan ini, silakan komentar dengan sopan ya. God bless you! :D


Pictures sources:


  • http://stock-image.mediafocus.com/images/previews/word-facility-on-keyboard-rs1120541259.jpg
  • http://nonsense.sourceforge.net/nonsense-logo.gif
  • http://www.supershuttle.com/Portals/11/PostedImages/packing-overstuffed-suitcase.jpg
  • All memes are made by myself with Meme Generator Free application on Android.

Read More »

Thursday, March 05, 2015

4 Hal Menyebalkan di DotA 2


Halo, bloggers. Bagaimana harimu? Semoga baik-baik saja dan menyenangkan. Ada yang tahu DotA 2? Kalau tidak tahu, kalian pasti tidak berevolusi (hehe). DotA 2 adalah sebuah permainan atau saya akan sebut di sini game karena lebih enak didengar, yang berjenis MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang merupakan stand-alone sequel dari Defense of the Ancients (DotA) Warcraft III: Reign of Chaos dan Warcraft III: The Frozen Throne mod. DotA 2 sangat populer sejak masa beta dari game ini. 

Saya tidak akan membahsa detail mengenai game ini karena kalian bisa menggali lebih dalam melalui Google atau tanya kepada teman-teman Anda yang terlihat kecanduan game (haha). Saya, sebagai orang yang suka memainkan game ini, ingin berbagi pengalaman kepada kalian. Saya ingin berbagi mengenai tipe-tipe pemain DotA 2 yang pernah saya temui sejak match pertama saya. Sekali lagi, ini murni dari pengalaman saya. Saya bukan pemain DotA 2  yang sangat pro dan GG dan pendapat saya ini hampir semuanya saya peroleh dari YouTube. 

Berikut adalah tipe-tipe pemain DotA 2 yang pernah saya temui:

1. First pick, ambil Sniper, dan ambil middle lane


FYI saja nih, Sniper adalah salah satu hero favorit saya. Tapi, kalau ada orang yang bertipe seperti ini ambil hero ini, saya bisa sangat kesal sampai saya trash talk sendiri di rumah. Faktanya adalah, orang-orang yang bertipe seperti ini hanya ingin enaknya saja. Sniper memang salah satu hero yang sangat friendly untuk newbie, tapi hero ini perlu positioning skill yang tinggi. Ditambah lagi, hero ini sangat rapuh dan tidak punya mekanisme melarikan diri yang memadai. 

Orang tipe seperti ini akan tidak peduli dengan hero yang akan diambil oleh musuh dan ini bisa sangat menyusahkan teman-temannya. Lalu, dia ambil middle lane, lane yang paling bergengsi. Namun, ia tidak mengerti bagaimana cara bermain di middle lane, kemudian dia sering mati. Padahal, hero ini termasuk hard carry yang bagus. Kemudian, dia bakal disalahkan oleh teman-temannya, dan yang paling mengesalkan adalah trash talk. Jangan seperti ini, ya, para pemain DotA 2 yang budiman.

2. Last pick malah ambil hero core padahal empat temannya sudah ambil hero core


Mungkin istilah di atas agak asing di telinga kalian. FYI, core heroes adalah hero yang mempunyai hak untuk memanfaatkan semua sumber daya di map dengan maksimal (aka farm haha). Pada umumnya core heroes adalah hero carry, semi carry. tanker, dan jungler. Lalu, kebalikan dari core heroes adalah support heroes. Posisi ini biasanya diisi oleh nuker, ganker, dan roamer; biasanya hero intelligence mengisi posisi ini. 

Bayangkan, kalau lima hero dalam satu tim adalah core heroes? Apa bisa semuanya bisa menggunakan semua sumber daya yang tersedia di map dengan maksimal? Menurut saya, tidak. Hal ini akan membuat pemain lain kebingungan dalam hati mereka dan akan berebut lahan untuk menggali sumber daya tersebut. Misalkan, kalau lima orang adalah carry, bagaimana caranya membagi sumber daya tersebut padahal hero carry biasanya sangat lemah kalau tidak punya core and big items

Tolong banget, kalau empat orang sudah ambil core heroes, coba mengalahlah, bro. Ambil support heroes dan belajar. Hero support itu tidak kalah menyenangkan, mengajarkan kita untuk sabar, dan bisa belajar sedikit mengenai investasi. Tolong pikir sendiri, ya, maksud saya dengan investasi. Haha.

3. Sangat bernafsu mencari kill, tapi ketika mati selalu menyalahkan teman-temannya


Maksud dari pemain seperti ini adalah baik sebenarnya. Cuma yang saya sesalkan adalah ketika mereka menyalahkan teman-temannya ketika mereka mati karena nafsu mereka. DotA 2 adalah permainan tim, bukan permainan individu. Lima orang harus bekerja satu sama lain sedemikian rupa sehingga mereka bisa menghancurkan ancient lawan. 

Strategi ganking merupakan strategi yang sangat bagus untuk memperlambat carry lawan untuk farm atau membuat lawan memiliki level lebih rendah daripada kita. Namun, ketika gank, kita harus selalu melihat situasi dan kondisi map, apakah semua hero tidak terlihat di map atau terlihat. Kalau tidak, hendaknya turunkan nafsu kalian untuk gank sebisa mungkin karena siapa tahu mereka mempunyai strategi untuk menjebak para ganker. 

Kalau, misalkan, nafsu kalian tidak tertahankan dan ingin membunuh lawan, berarti kalian sudah terima risiko kalau kalian bakal mati tanpa dibantu oleh teman-teman kalian. Maka dari itu, saya sangat kesal dengan mereka yang bertipe seperti ini. 

4. Bicara dengan bahasa negara masing-masing


Sebenarnya, saya sering seperti ini jika dan hanya jika saya bermain dengan teman sendiri. Namun, saya tetap berusaha menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara dengan pemain lain dari negara lain.

Ketika tidak paham akan bahasa yang digunakan oleh pemain lain, komunikasi dalam suatu tim akan terganggu. Kalau komunikasi terganggu, permainan tim bisa menjadi kacau dan memungkinkan kita untuk kalah. Terlebih lagi, saya sudah membalas dengan bahasa Inggris, namun mereka tetap membalasnya dengan bahasa mereka sendiri. 

Lebih parah lagi, kalau mereka mengungkapkannya melalui mic, bukan melalui chat. Sudah keras, bahasanya tidak bisa dimengerti, tidak bisa menggunakan bahasa Inggris, oh, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Terlebih lagi, saya sebenarnya tidak terlalu suka mute orang lain karena hal tersebut menghambat komunikasi yang bisa jadi bisa memenangkan war


Saya berharap bisa lebih banyak dari ini, tapi ternyata hanya ada 4 hal yang bisa saya ingat dan temukans selama bermain DotA 2. Ingat, saya bukan pemain DotA 2 yang tahu segalanya tentang DotA 2 kemudian bisa bermain dengan sangat pro dan GG. Pendapat saya di atas merupakan hal kecil dari DotA 2. Oya, gaya bermain saya terlanjut mengikuti gaya Western, yang bermain nonagresif karena pengaruh YouTube.

Terima kasih. God bless You!!


Sumber:
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Dota_2
  • http://www.quickmeme.com/img/f0/f0bf222ded0798436654937368c2b2fd078cf0dd7801bf144b9f96d24775a596.jpg
  • http://thoughtware.com/wp-content/uploads/2013/12/blame1.jpg
  • http://fc08.deviantart.net/fs71/f/2012/226/1/a/carry_on_wip_by_vnbenedicto-d5awojj.jpg
  • http://th03.deviantart.net/fs70/PRE/i/2013/320/6/5/sniper__dota_2_by_speedart1982-d6ujtv8.jpg
  • https://digitallovechild.files.wordpress.com/2013/12/dota-2-logo.jpg


Read More »

Tuesday, March 03, 2015

Time Management is Nonsense?


Hello, bloggers. I decide to make this blog as a place for me to vent but not too harsh. The reason is because I want to make this blog keep alive while I run out of any good ideas. Actually, I vent a lot because I can't develop other self-defense mechanism. 

Anyway, let's get into the topic. I'd like to talk about time management. I will write based on my country's college culture. 

As a college or university student, this term is very familiar. I first heard this term when I was in orientation days at my first university (I quit from that university and now I go to my current university). This term is very related to academic and social life of us. My seniors always emphasized us, juniors, that we must be able to do this thing. In my opinion, I really agree on that.


Let's talk about the theory first (these all will be based on merely my opinion). Time management is the art (because it's management so I refer to one of the word I learned about management LOL) of make use of our time such that all of the things we have can be done in a day. 

We are required to be able to make schedule of all the things or responsibilities we have to do. After that, we must make priorities and decide which thing has the highest priority. Then, we do that thing. We should watch the time we need and we have spent. If your time needed for doing that thing is over, you should stop and do the next thing on your schedule. And so on until you have nothing remaining to do.




We can't know the future

When we make a schedule, we estimate that no other things will happen during the time something happening in your schedule. However, you are not God who can control time and know the future. As a result, we sometimes or often are surprised that something suddenly is happening in the middle of our schedule. We can't help but face it and it will ruin your schedule. If you can't finished doing a thing based on schedule, you will as not be able to do the next thing based on schedule. 

We are different from other people

What if you have made schedule perfectly, you have done the thing properly, but other people seem not to know about time management? That is horrible and sometimes frustrating. I usually face this kind of problem in organization. For example
There is a meeting today and we have made schedule for it. Let's say the meeting starts at 19.00. We have arrived on time or even earlier. However, there are many members, even the chief him/herself come late for about one hour and more. Whether we want it or not, as a good member, we have to wait for them so that the meeting can start. The meeting starts at 20.15. On your schedule, we are supposed to leave for home at 21.00 (we have asked the chief about this). However, because there were some member who came late, the meeting can't be finished based on our schedule. Again, whether we want it or not, we have to wait for it and keep joining the meeting until it's finished.
Do you understand? That is very terrible. That becomes like habit among us in Indonesia. If thing ends up like above, our schedule will be ruined. Me, I will be very frustrated and even I can worry so much about my ruined schedule.  

Focus on the time or the result?

This also becomes a dilemma. If we concern about our schedule, we should prioritize the time. Yet, if we concern about the result, we should prioritize the result. Usually, when we concern about the schedule and focus on the time, we can't do the things as perfect as possible. We will work those things perfunctorily. For easy going person, this may not be a big problem. 

What if we focus on the result? We probably can get the things as perfect as we want. We probably will get a very good score of it and we probably will feel very satisfied due to our effort. Nevertheless, we may ruin our own schedule because doing things perfectly needs a lot of time. This thing usually happens on OCD (Obsessive Compulsive Disorder), like me. 

We haven't known ourselves well

This means that we should know our capabilities. We should know what we can do and what we can't do. Then, we look at our schedule and think, "Can I do those thing?" This is related to what if we focus the result. It's not only focusing the result that will spend more time. When we know that we can't do certain things in our schedule but instead we keep going on, we will spend more time to finish it. 

Moreover, will the result be as good as we expect? I don't think so because we know that we can't do that. Sometimes, this can get more horrible if we keep going on. 


The fact that I write above is based on merely my experience. Now, I am still struggling to find the best way to manage my time, especially if it deals with other people that always like to not respect the time. I hope this is interesting to read and I apologize if my English is still horrible. Thanks for reading and God bless you!

Source:

  • http://thumbs.dreamstime.com/z/time-management-words-clock-timer-managing-hours-prioritizing-your-minutes-scheduling-important-moments-events-32993937.jpg
  • http://optionsforher.ca/web/rwx_gallery/thumbs/1329531963_theory_logo.jpg
  • http://archive.freeenterprise.com/sites/default/files/styles/large/public/media/00_LEGAL_shutterstock_34651474_FactMagnify_659px.jpg?itok=y_QoHSiV
  • http://www.troll.me/images/dawson-crying/im-sad-and-confused.jpg


Read More »

Most Commented

Add this widget

Most Read

Just Comment