Sunday, March 15, 2015

Love What You Do

College life is very confusing. I often face some hard choices to choose because I always think about the consequences I will take. Sometimes, I think that that is a normal thing happening when adolescence is going to turn into young adult people. However, I still can not accept that thing and it always disrupt my heart. 

College life has two huge choices that I should choose, academic (GPA, seminars, studying, and assignments) or social (organizations and committees). I personally truly honestly incredibly want to choose both of them. However, dilemma is always there. Because of my disorder (OCD), I always want to do something perfectly. I can always focus on one thing. Then, I prioritized academic over social. 

Most of the time, I feel annoyed by my OCD. OCD makes me to always do everything I want perfectly although I can not do it. I have decided to prioritized academic, yet I can not resist myself to join an organization or some committees. In recruitment process, I said many optimistic answer to the interviewer and they were amazed and hopeful of myself. That time, after I gave my answers, I felt very hopeful, too. Things get escalated very quickly when I am in the middle of the process. I feel very confused of managing my time to academic and social. I always feel confused whenever I get a group assignment, there are some meetings and organizational tasks needed to be done. I feel frustrated too when I know that my lecture orders me to always read the next chapter prior to the next class. It takes a lot of my time. I become more frustrated when I do not get permission to leave organization or committee meetings because of assignments and studying. I come to be unable to handle it.

One day, I vented to my one of close friends about this problem. He has quite good GPA and joins an organization, too. I am really curious of how he can do those two things together. He used to be very funny and sort of childish person. Now, he is grown-up and I am so pathetic. After venting so much, he gave a solution in a very short sentence:

This sentence settles my dilemma now. What I get from this sentence is not that I should love all unwelcome things I do. What I get is that I should carry on what I am doing now, then I should love it as well. I only can do something useful on academic things and makes me enjoyed. All this time, I evidently care too much about what other people say about me. This really influences my life a lot.

Since first semester, seniors have always shouted about "academic is not that very important". I evidently let it enter to my head and ruined my mind. Ever since, I always tried to join some committees and an organization (for now) and make something useful for them. I really put a lot of my effort on that and it seems to be fruitless. That is the power of "always care about what other people say about you".

Now, I reduce that propaganda in my head and try to make it go out of my head. Slowly but sure, I start to be courageous to focus on doing group assignments, individual assignments, studying a lot of chapters, and anything related to academic. In my opinion, focusing on only academic is not completely wrong. Some college students just do that because they think that they are not capable of doing something related to organization or committees. Perhaps, they have tried so many times like myself to join and contribute something on organizations or committees, yet all of their efforts are futile.

I also think that people always want to accomplish something on their lives. I do. In order to do that, some of them take difficult and frustrating ways and others just take bearable and mediocre ways. I take the latter. You should not think that doing something in mediocre ways or in people's comfort zone does not take so much effort. You are wrong! I give all of my efforts on academics. Academics are not my comfort zone. I will always love what I am doing and try not to give any single care to what people say.

God bless you!

Pictures sources:

  • http://mycelium.is/wp-content/uploads/2012/12/Love-What-you-do.jpeg
  • All memes are made by myself using Meme Generator
Read More »

Friday, March 13, 2015

Opportunity Cost

Salut, bloggers! TGIF yeay!! Karena saya adalah mahasiswa dan kuliah itu hanya 5 hari kerja, jadinya saya TGIF ya. Bagi yang masih sekolah, jangan iri ya, ada waktunya kok haha. Kali ini saya mau membuat tulisan yang berkaitan dengan jurusan saya. 

Kalian pasti bakalan kaget dengan tulisan ini karena genre blog saya yang terlihat sangat personal. Namun, tujuan saya kembali aktif di dunia blog adalah tidak hanya menuangkan semua unek-unek saya dalam bentuk tulisan, tetapi saya juga ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan kepada para pembaca. Saya tahu, walaupun banyak yang bakal tidak paham, tapi setidaknya saya bisa membantu para siswa dan mahasiswa yang sedang kebingungan dengan topik yang saya tulis. Selain itu, saya di sini pun belajar cara menyampaikan ilmu yang saya dapatkan kepada khalayak dengan sesederhana mungkin dan mudah dipahami (semoga ya, guys). 


Jadi, kemarin, saya kuliah Akuntansi Manajemen. Kaget ya kok nama mata kuliahnya gado-gado gitu? Haha. Jadi, di akuntansi manajemen, mahasiswa akuntansi diajar bagaimana cara mengolah informasi di laporan keuangan untuk disampaikan kepada manajemen untuk membantu mereka dalam proses pengambilan keputusan. Akuntan manajemen itu bukan manajer dan juga bukan babunya manajer, tapi mereka adalah partner. 

Kembali ke topik. Di kuliah tersebut, saya mendapatkan pencerahan atas kebingungan saya selama ini. Saya dari dulu selalu bingung konsep opportunity cost atau biaya kesempatan. Sejak SMP hingga sekarang, jawaban mengenai dua kata ini selalu berbeda-beda dan membuat saya bingung. 


Namun, kuliah kemarin merubah segalanya. Karena saya percaya pada textbook yang saya pakai, jadi saya menganggap bahwa kebingungan saya telah berakhir. (Hell yeah!!) Definisi mentahnya sebagai berikut:
An opportunity cost is defined as the benefit that is sacrificed when the choice of one action precludes taking an alternative course of action. (Hilton RW, 2011)
Mubeng ya? Jadi, dengan terjemahan bahasa saya sendiri, biaya kesempatan didefinisikan sebagai keuntungan yang dikorbankan sebagai akibat mengambil suatu alternatif tindakan. Masih mubeng ya? Maafkan saya. (T_T). Jadi, ketika kalian dihadapkan dua pilihan antara X dan Y dan kalian memlilih X misalkan, maka kalian telah mengorbankan keuntungan yang mungkin diperoleh dari memilih Y.

Biaya kesempatan selalu fokus dan berhubungan pada keuntungan, laba, dan istilah lain yang sama. Namanya biaya kesempatan, yang saya awalnya dulu mengira biaya yang dikorbankan karena mengambil suatu pilihan, ternyata malah menekankan pada keuntungan. Istilah dengan definisi yang bertolak belakang, kan? Membingungkan, kan? 

Contoh 1. Dathan adalah seorang bapak yang sudah beristri dan mempunyai 2 anak. Dia pun sangat dekat dengan saudara-saudara dari keluarganya maupun keluarga istrinya sehingga saudara-saudara mereka sering mengunjungi mereka. Suatu hari, dia membeli rumah karena dia telah mengontrak sangat lama dan setelah melihat-lihat, sampailah dia pada dua pilihan. Rumah A (sudah dengan harga tanah) memiliki harga Rp500.000.000,00 dan hanya bisa memuat 4 orang dilihat dari kamar tidurnya. Rumah B (sudah dengan harga tanah) memiliki harga Rp800.000.000,00 tetapi bisa memuat 8 orang. Karena dana yang dimiliki Dathan tidak terlalu banyak, jadi ia putuskan untuk membeli rumah A. Dengan demikian, biaya kesempatan Dathan adalah keuntungan rumah B, yaitu bisa memuat 8 orang sehingga saudara-saudaranya bisa sering berkunjung. 

Mudah-mudahan paham, ya guys. Contoh di atas merupakan contoh yang memiliki informasi yang jelas mengenai kedua keuntungan yang akan diperoleh dari kedua alternatif tersebut. Namun, dunia nyata tidak semudah teori. Kenyataannya, keuntungan atas suatu pilihan biasanya tidak pernah bisa diketahui dengan jelas. Sehingga, hal seperti ini dinamakan biaya kesempatan semu. 

Contoh 2. Dika adalah seorang mahasiswa semester dua. Pada awal semester dua atau liburan semester satu, dia mencoba melamar pekerjaan di sebuah supermarket. Setelah mengikuti seleksi, ia pun lolos, namun ia belum menentukan pilihannya dengan bulat. Jika ia bekerja di sana, ia akan mendapatkan gaji sebesar Rp2.000.000,00 per bulan. Namun, di sisi lain, ia telah membayar UKT semester dua sebesar Rp3.000.000,00, sehingga ia juga memikirkan untuk terus melanjutkan dan menyelesaikan studinya. 

Berdasarkan contoh di atas, biaya kesempatan tidak bisa dengan jelas ditentukan karena Dika tidak tahu berapa keuntungan yang bisa ia dapatkan jika ia melanjutkan studi. Jika ia memutuskan untuk melanjutkan studi, maka biaya kesempatannya adalah Rp2.000.000,00 per bulan atau Rp24.000.000,00 per tahun (gaji bekerja di supermarket). Tetapi, jika ia memutuskan untuk bekerja, maka biaya kesempatannya tidak dapat diketahui dengan pasti karena selama kuliah ia tidak mendapatkan uang apapun. Tetapi, setelah lulus ia pasti akan bekerja entah sebagai apa dengan pendapatan yang entah berapa. 

Solusi dari contoh nomor 2 adalah Dika harus bertanya kepada orang yang telah berpengalaman dengan kasus yang hampir sama. Dengan demikian, ia menjadi tahu dan memutuskan biaya kesempatan dari keputusan yang ia ambil dalam kasus di atas. 


Jadi, bloggers, biaya kesempatan itu sangat esensial untuk kehidupan kita. Kita harus jeli dalam menentukan biaya kesempatan dari keputusan yang kita ambil karena siapa tahu kalian bisa menjadi kaya mendadak ketika biaya kesempatan yang diambil tepat. Biaya kesempatan menurut saya sih salah satu skill kita untuk bertahan hidup di zaman sekarang ini yang penuh dengan spekulasi. Dengan mempelajari ini, kita juga melatih kedewasaan kita karena pada dasarnya biaya kesempatan adalah belajar untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk. :D

Demikian tulisan yang aneh ini. Semoga bloggers bisa memahaminya. Jika ada saran dan kritik, silakan komentar, saya sedang belajar menerima kritik dan mengubahnya menjadi energi yang positif. Terima kasih dan God bless you!

Daftar Pustaka:
Hilton RW. 2011. Managerial Accounting: Creating Value In A Dynamic Business Environment. Edisi ke-9. New York: Mc Graw-Hill/Irwin

Pictures sources:
  • http://comps.canstockphoto.com/can-stock-photo_csp11758925.jpg
  • http://www.dawgpoundnation.com/wp-content/uploads/2014/08/wpid-confused-face-1.jpg.jpeg
  • All memes are made by myself  through Meme Generator application on Android
Read More »

Saturday, March 07, 2015

Minggu Pertama di Semester 4


Halo, bloggers. Selamat berakhir pekan! Bagaimana minggu pertama kalian di bulan Maret ini? Semoga penuh dengan keburuntungan. Minggu pertama saya di bulan Maret mungkin agak kurang menyenangkan bagi saya karena saya menemukan beberapa hal yang sangat bertolak belakang dengan sifat saya. Di sinilah sifat OCD dan Social Anxiety saya diuji dan membuat saya frustasi. Kali ini, saya mau berbagi cerita tentang apa yang saya alami selama minggu pertama di Maret ini.

Senin, 2 Maret 2015


Sayang sekali, saya tidak bisa membuat jadwal di mana hari Senin bisa meliburkan diri. First day of lecture or college in the fourth semester. Firasat saya, sih bakalan banyak hal-hal yang berbeda dari first day of college semester-semester sebelumnya. Biasanya sih, kita tidak akan galau mengenai KRS yang belum penuh atau pendaftaran praktikum yang telat. Tapi, kali ini berbeda sekali, bloggers.

Semester ini sungguh membingungkan dan rumit. Praktikum yang biasanya membuka pendaftaran saat kita masih liburan, ternyata dibuka saat sudah masuk dan sangat mepet dengan jam kuliah. Saya kuliah pertama pukul 10.15 dan saya datang ke kampus pukul 09.00 dengan harapan pendaftarannya bakal lancar bagaikan jalanan yang sepi dan bisa membantu mendaftarkan teman supaya bisa sekelompok. Tapi, ternyata saya salah.

Saat dibuka pukul 09.00, kita diharuskan mengantre sambil mengambil nomor antrian. Rasanya saat itu saya seperti sedang antre sembako di balai desa. Lalu, parahnya lagi, kuota kelompoknya tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang akan mendaftar, akibatnya harus membuat kelas lagi dan terpisah dengan beberapa teman. T_T

Selasa, 3 Maret 2015


Hari itu adalah hari pertama di jadwal di mana saya harus berangkat pagi, pukul 07.30. Hari ini di mana saya mulai merasa frustasi dan bingung apa yang akan saya dapatkan di semester ini.

Hari itu, kuliah pagi dengan dosen yang pintar dan komunikasinya sangat bagus. Kemampuan bahasa Inggrisnya pun bagus dan saya kagum. Namun, ketika beliau memberitahu bagaimana penilaian di kelasnya, saya mulai merasa frustasi. 

Beliau ingin para mahasiswa aktif dan bagi yang aktif akan mendapatkan nilai. Karena OCD, saya mulai berpikir, saya pasti bisa melakukannya dan tidak peduli dengan jawaban saya entah benar atau salah yang penting aktif. Tapi, eh tapi, karena OCD juga, saat mau menjawab, saya selalu enggan untuk mengangkat tangan saya karena saya terlalu takut kalau jawaban saya salah dan berpikir kalau salah, pasti ada orang yang ngomongin saya. 

Saat itu, saya mulai galau dan frustasi karena saya OCD dan juga terkena social anxiety. Saya tidak biasa berbicara di depan umum karena ketika saya melakukannya, saya merasa sangat berdebar-debar. Rasanya sangat tidak enak dan bisa menjurus ke panik. Dan saya bingung sampai tulisan ini di buat. 

Rabu, 4 Maret 2015


Akhirnya, setelah semester kemarin saya tidak bisa mendapatkan libur, semester ini saya bisa mendapatkan libur di hari Rabu. Beginilah keuntungan SKS, yaitu bisa membuat jadwal sendiri (dear anak SMA, beginilah kuliah :v)

Rabu kemarin, saya memutuskan untuk tetap di rumah. Haha. Rumah adalah tempat terbaik bagi saya karena saya tidak pernah merasa bosan di rumah. Semuanya itu berkat internet dan PC (thank God!). Hari itu saya menghabiskan Rabu dengan surf YouTube, melihat beberapa video yang kebanyakan adalah family vlogs; juga browse template blog yang pas yang ujung-ujungnya pakai template bawaan (such pathetic). 

Kamis, 5 Maret 2015


Akhirnya, tiba juga Kamis, hari di mana saya kuliah mata kuliah favorit saya. Favorit bukan karena saya bisa menguasainya dengan mudah, tapi karena mata kuliah inilah yang membuat saya selalu semangat untuk melanjutkan kuliah terlepas dari sifat dosen yang berbeda-beda.

Di kuliah makul favorit saya ini, saya senang karena saya akhirnya bisa merasakan kuliah dengan jumlah mahasiswa kurang dari 30 orang. Rasanya seperti rasa lega ketika hidung kita mampet. Biasanya satu kelas itu berisi lebih dari 50 orang. 

Dosennya pun menyenangkan. Beliau lebih banyak cerita namun cerita hal-hal yang membuat saya sangat penasaran, yaitu investasi. Beliau cerita pengalamannya berinvestasi yang menurut beliau bisa menimbulkan keuntungan yang besar. Beliau sebagian cerita mengenai investasi tanah dan rumah. Awalnya, saya tidak tertarik dengan hal seperti itu karena hal tersebut sifatnya gambling. Namun, setelah mendengarkan cerita beliau, saya jadi sangat tertarik. Investasi rumah dan tanah itu tidak biasa karena harganya yang menurut beliau selalu naik. Beliau pernah berinvestasi dengan membeli tanah Rp4 juta entah kapan, kemudian ia jual dengan harga Rp270 juta entah kapan. Mungkin, untuk memotivasi kami, beliau tidak menceritakan kapan karena saya yakin untuk mendapatkan harga demikian butuh waktu yang lama. 


Hari Kamis merupakan hari yang spesial rupanya karena dua makul memiliki cerita yang unik. Makul kedua ini, saya mendapatkan kejutan. Makul inilah pertama kalinya saya mendapat tugas kelompok di semester 4 ini. 

Tugas kelompok sebenarnya merupakan hal yang tidak saya sukai jika dan hanya jika orang-orang di kelompok tersebut terima jadi tok. Saya sungguh tidak suka ketika hanya saya yang bekerja atau beberapa orang yang bekerja tapi ada yang sama sekali tidak bekerja. Hambatan lain adalah ketika kamu tahu kamu bisa melakukannya, tapi karena ini tugas kelompok dan kamu melimpahkan pekerjaan itu kepada temanmu supaya bekerja, namun hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Di situlah muncul serba salah, pengen bilangin teman kita ya salah, diam ya nyesek juga, akhirnya dikerjakan ulang sendiri. Mungkin inilah orang OCD. 

Jumat, 6 Maret 2015


Jumat adalah hari kedua di mana saya punya kuliah pagi. Kali ini, kuliah dimulai pukul 07.00. Sehari sebelumnya, saya stress memikirkan bagaimana cara saya supaya bisa bangun lebih pagi dari biasanya (biasanya saya bangun 06.00). Pagi harinya, saya sebenarnya sudah bangun pukul 05.00 berkat alarm HP saya. Namun, karena efek liburan yang masih kuat, jadinya saya tidur lagi. Kemudian, saya terbangun pukul 06.20 dan saya panik.

Untungnya, saya bisa datang di kampus pukul 06.50 dan melakukan presensi fingerprint. Saya kuliah dengan dosen yang komunikatif lagi dan membuat suasana kelas tidak menjadi membosankan. Beliau ternyata orang yang sangat tepat waktu dan saya sangat kagum. Andai saja, orang-orang seperti beliau, saya tidak menjadi kesal dengan hidup saya di negara ini. Hal ini ada kaitannya dengan time management yang sangat penting di kehidupan kuliah.


Hari Sabtu tidak saya masukkan di sini karena hari Sabtu belum selesai dan saya tidak kuliah di hari Sabtu. Haha. Inti dari minggu pertama kuliah di semester 4 ini adalah saya frustasi. Bagaimana minggu pertama kuliahmu atau kerjamu? Please, don't be afraid to share yours here in the comments!


Source for pictures: 

  • http://thumb1.shutterstock.com/display_pic_with_logo/11994/238790770/stock-vector-university-word-business-collage-vector-background-238790770.jpg
  • http://thepinningmama.com/printablesschool/firstdayofschoolsignscollege.jpg
  • http://i.ytimg.com/vi/qRRemYuSwII/hqdefault.jpg
  • http://media.salemwebnetwork.com/ecards/wacky_holidays/lazyday.jpg
  • http://cdn2.blog-media.zillowstatic.com/1/iStock_000019551430XSmall-4d4312.jpg
  • http://cdn2.blog-media.zillowstatic.com/1/iStock_000019551430XSmall-4d4312.jpg
  • http://www.quickmeme.com/img/98/984f8f7e57f1c2d48ee88f22731d764e2a0e595785d60247264caedb2a9e09db.jpg
  • https://nemohs.files.wordpress.com/2014/01/depositphotos_13559127-always-on-time-punctual-reliability-clock.jpg
Read More »

Tuesday, March 03, 2015

Time Management is Nonsense?


Hello, bloggers. I decide to make this blog as a place for me to vent but not too harsh. The reason is because I want to make this blog keep alive while I run out of any good ideas. Actually, I vent a lot because I can't develop other self-defense mechanism. 

Anyway, let's get into the topic. I'd like to talk about time management. I will write based on my country's college culture. 

As a college or university student, this term is very familiar. I first heard this term when I was in orientation days at my first university (I quit from that university and now I go to my current university). This term is very related to academic and social life of us. My seniors always emphasized us, juniors, that we must be able to do this thing. In my opinion, I really agree on that.


Let's talk about the theory first (these all will be based on merely my opinion). Time management is the art (because it's management so I refer to one of the word I learned about management LOL) of make use of our time such that all of the things we have can be done in a day. 

We are required to be able to make schedule of all the things or responsibilities we have to do. After that, we must make priorities and decide which thing has the highest priority. Then, we do that thing. We should watch the time we need and we have spent. If your time needed for doing that thing is over, you should stop and do the next thing on your schedule. And so on until you have nothing remaining to do.




We can't know the future

When we make a schedule, we estimate that no other things will happen during the time something happening in your schedule. However, you are not God who can control time and know the future. As a result, we sometimes or often are surprised that something suddenly is happening in the middle of our schedule. We can't help but face it and it will ruin your schedule. If you can't finished doing a thing based on schedule, you will as not be able to do the next thing based on schedule. 

We are different from other people

What if you have made schedule perfectly, you have done the thing properly, but other people seem not to know about time management? That is horrible and sometimes frustrating. I usually face this kind of problem in organization. For example
There is a meeting today and we have made schedule for it. Let's say the meeting starts at 19.00. We have arrived on time or even earlier. However, there are many members, even the chief him/herself come late for about one hour and more. Whether we want it or not, as a good member, we have to wait for them so that the meeting can start. The meeting starts at 20.15. On your schedule, we are supposed to leave for home at 21.00 (we have asked the chief about this). However, because there were some member who came late, the meeting can't be finished based on our schedule. Again, whether we want it or not, we have to wait for it and keep joining the meeting until it's finished.
Do you understand? That is very terrible. That becomes like habit among us in Indonesia. If thing ends up like above, our schedule will be ruined. Me, I will be very frustrated and even I can worry so much about my ruined schedule.  

Focus on the time or the result?

This also becomes a dilemma. If we concern about our schedule, we should prioritize the time. Yet, if we concern about the result, we should prioritize the result. Usually, when we concern about the schedule and focus on the time, we can't do the things as perfect as possible. We will work those things perfunctorily. For easy going person, this may not be a big problem. 

What if we focus on the result? We probably can get the things as perfect as we want. We probably will get a very good score of it and we probably will feel very satisfied due to our effort. Nevertheless, we may ruin our own schedule because doing things perfectly needs a lot of time. This thing usually happens on OCD (Obsessive Compulsive Disorder), like me. 

We haven't known ourselves well

This means that we should know our capabilities. We should know what we can do and what we can't do. Then, we look at our schedule and think, "Can I do those thing?" This is related to what if we focus the result. It's not only focusing the result that will spend more time. When we know that we can't do certain things in our schedule but instead we keep going on, we will spend more time to finish it. 

Moreover, will the result be as good as we expect? I don't think so because we know that we can't do that. Sometimes, this can get more horrible if we keep going on. 


The fact that I write above is based on merely my experience. Now, I am still struggling to find the best way to manage my time, especially if it deals with other people that always like to not respect the time. I hope this is interesting to read and I apologize if my English is still horrible. Thanks for reading and God bless you!

Source:

  • http://thumbs.dreamstime.com/z/time-management-words-clock-timer-managing-hours-prioritizing-your-minutes-scheduling-important-moments-events-32993937.jpg
  • http://optionsforher.ca/web/rwx_gallery/thumbs/1329531963_theory_logo.jpg
  • http://archive.freeenterprise.com/sites/default/files/styles/large/public/media/00_LEGAL_shutterstock_34651474_FactMagnify_659px.jpg?itok=y_QoHSiV
  • http://www.troll.me/images/dawson-crying/im-sad-and-confused.jpg


Read More »

Wednesday, December 03, 2014

Being "Kupu" Student is Just Right


Hello, blogger, we meet again this morning. I just want to say that I am such a bad blogger that I am very reluctant to update my blog whereas I got so many ideas in my mind but my mood didn't want me to write those in here. 

What I want to say is about joining a student committee or a student organization in university. In the beginning semester, I was very optimized that I could handle so many bustles if I joined some student committees and an organization. Then, here I am in the 3rd semester of my life in my university and I just come back to who I originally am. I become an not active student again because I just find some disadvantages of joining such things.

Punctuality, this is the main reason I stop joining such things. This is very related to one of main purpose of joining such things, time management. I know this and what I get from this is that we learn to plan how long each of our activities would last. However, I am in Indonesia where late is very tolerable because people can give so many alibis to support why they come late. Moreover, there are sometimes no punishments or even light penalties to it. For the case, here is a real example. There is a committee meeting today and I must attend at 3.00 pm at Hall D (one of my faculty buildings). I have arrived there at 2.45 pm so I have to wait them coming for about 30 minutes (there is 15 minutes late tolerance). It's still okay for me. Then, when it's 3.15 pm, there still very few members coming and the chief doesn't want to start the meeting because all members have not attended. This is very horrible and the time management concept becomes a bullshit. I have planned the meeting will last for about 2 hours if it's started punctually. What if not? My plan is ruined. Some of you will think that this is selfish but I don't think so. What if there is someone else who is the same with me? The committee is important, but ourselves are also important. 

I want to say some things about late. If I can't attend punctually, I will come late definitely. However, I always tell to my coordinator (if I become a staff) or my chief or leader (if I become a coordinator) that I am going to come late. So, the point is we also have to predict our spending time. I always predict what time I am gonna arrive if I go at this time, including the traffic jam. We should always watch our usual speed and max speed when we go by motorcycle or car so that we can predict our spending time. As well, we have to learn the road culture, that if the road is still good or there are some holes, those also can influence our journey to our destination and influence the time we spend too.

I am not a perfect guy and I often procrastinate (waste so much time). However, I always concern about this thing that makes me so confused and so horrible sometimes. Thanks!
Read More »

Most Commented

Add this widget

Most Read

Just Comment