Thursday, March 19, 2015

#TantanganMenulis: 2 Years Later


Sekarang, saya sudah 19 tahun. Usia yang menandakan bahwa masa-masa remaja yang penuh kelabilan dan kegalauan harus segera diakhiri. Sebentar lagi, 20, 21, 22, dst. Kenyataan yang pahit memang, ketika masa-masa yang lumayan buruk tapi menyenangkan harus ditinggalkan. 

Sebagai laki-laki, yang seharusnya cenderung berpikiran ke depan, saya malah sering berpikiran kekinian dan bahkan masa lalu. Saya sering meratapi masa lalu saya, atau dengan kata lain belum bisa memaafkan masa lalu saya sendiri karena saya sungguh menyesal atas segala hal buruk yang tidak bisa kuperbaiki yang saya lakukan di masa lalu. Oleh karena itu, karena saya laki-laki, saya mau mencoba berpikiran yang berorientasi ke masa depan. Menurut saya, saya berarti harus lebih berani untuk bermimpi. Bermimpi pun tidak harus yang terlalu jauh sampai puluhan tahun yang akan datang, namun, hari esok pun bisa dimimpikan, tetapi tidak terlalu besar. 

Dua tahun itu merupakan rentang waktu yang tepat untuk bermimpi, bermimpi untuk masa depan akan nasib saya ini. Mungkin, setelah tulisan ini selesai, saya bisa meredakan rasa penyesalan saya terhadap masa lalu saya yang cukup kelam. Walaupun demikian, dua tahun merupakan waktu yang terlalu singkat untuk mengubah semuanya. Namun, saya percaya, it's never too late. 

1. Lulus dengan nilai yang membanggakan
Saya tidak peduli dengan anggapan dan idealisme rekan-rekan saya yang menyebutkan "IPK itu tidak terlalu penting". Saya sudah tahu semuanya akan hal tersebut. Saya tahu konsekuensinya. Namun, diri saya ini tidak bisa mengorbankan akademik yang amat begitu penting. Tahun depan, saya sudah harus KKN (oh, damn T_T), yang merupakan salah satu kelemahan terbesar saya sampai saat ini. Setelah itu, di tahun yang sama, jika lancar dan tidak ada mata kuliah yang mengulang (amin), saya harus mengerjakan skripsi. Semoga, di tahap ini, saya bisa dengan tekun mengerjakan dan menyelesaikannya, bisa mempresentasikan proposal dan hasil penelitian saya dengan baik, dan yang paling utama bisa melakukan ujian pendadaran dengan lancar. Saya percaya, usaha keras tidak akan pernah menghianati, sekalipun saya fokus terus di bidang akademik. 

2. Berbicara dengan lancar dan tidak lola (slow thinker)
Mungkin saya memang gagu. Sejak kelas 7 SMP, saya mulai memiliki masalah ini dan sampai sekarang belum sepenuhnya terobati. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab saya untuk menghindari kegiatan-kegiatan sosial, debat, dan terkadang rapat. Namun, perlahan-lahan, kutukan ini mulai berkurang dan semakin berkurang (tapi masih ada). Dua tahun yang akan datang, semoga saya tidak slow thinker lagi dan bisa berbicara dengan lancar. Semoga saya sudah berani untuk menyampaikan dan menyanggah pendapat pada saat mengikuti suatu rapat ( dua tahun kemudian pun mungkin masih ada rapat). Semoga saya bisa mengikuti dengan baik tes wawancara perusahaan yang saya minati dan lolos sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. 

3. Lebih bertanggungjawab

Juga merupakan salah satu hal tersulit yang ingin saya capai. Masih 19 tahun, mungkin di pikiran saya masih tertanam mental anak remaja yang masih labil dan kurang tahu diri. Namun, dua tahun mendatang sudah bagaikan dunia yang berbeda. Kurang bertanggung jawab saya pula yang membuat saya menjadi pribadi yang kurang terorganisasi, padahal saya terkena OCD. Untuk diri saya di dua tahun yang akan datang, semoga kau lebih bertanggung jawab dari dikau yang sekarang. Jangan pernah tidur kembali ketika alarm yang telah kau pasang setiap menjelang tidur berbunyi. Jangan pernah lupa di mana kau menaruh nota dan struk transaksi-transaksi yang penting. Jangan pernah lupa bahwa dirimu sudah dewasa, harus bisa hidup sendiri, tidak boleh homesick lagi. 

4. Bisa menghasilkan sesuatu yang positif dari blogging
Awal tahun 2015 meruapakan langkah awal diri saya untuk kembali aktif blogging setelah kira-kira 3 atau 4 tahun vakum blogging. Saat ini, blogging merupakan satu-satunya hobi saya. Blog ini masih bergenre personal dan random. Tulisan saya pun masih buruk. Untuk dua tahun kemudian, semoga blog ini bisa berubah genre, dari personal menjadi sesuatu yang lain yang bisa menghasilkan pendapatan. Semoga tulisan saya bisa semakin terus berkembang, kritis, namun tidak membosankan ketika dibaca. Semoga hobi saya yang ini bisa membuat saya memiliki pikiran yang lebih kritis dan peka terhadap segala fenomena yang terjadi di sekitar saya. 

5. Bisa berbahasa Inggris dengan baik dan lancar
Saya pernah sempat berpikir, "Andai Indonesia dijajah oleh Inggris untuk waktu yang lama, pasti kita semua bisa berbahasa Inggris." Saya iri dengan negara-negara yang memiliki bahasa nasional bahasa Inggris. Mayoritas dari mereka terlihat lebih maju dan bisa mengundang lebih banyak turis asing ke negaranya. Dua tahun lagi, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) telah memasukki tahun keduanya. Karena sudah bukan masa-masa pengenalan MEA, maka makin banyak tenaga-tenaga kerja dari negara-negara ASEAN yang akan masuk ke Indonesia dan bersaing dengan saya contohnya. Semoga sebelum masa pengenalan MEA berakhir, saya telah bisa menguasai bahasa Inggris, bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar dan tepat, dan telah menambah cukup banyak perbendaharaan kata bahasa Inggris.

6. Ikut Asian Youth Day 2017 dan bertemu dengan Paus Fransiskus
Yang satu ini merupakan yang sangat spesial. Karena saya adalah seorang Katolik, saya sangat ingin sekali bertemu dengan Paus yang sedang menjabat saat ini, yaitu Paus Fransiskus. Namun, karena saya bukan orang yang mempunyai banyak uang untuk berlibur ke Vatikan atau Italia, hal tersebut menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Akan tetapi, akan ada acara yang sangat besar bernama Asian Youth Day 2017 yang akan diselenggarakan di Indonesia. Asian Youth Day adalah acara temu raya kaum muda Katolik se-Asia dan di saat itu lah Sri Paus akan datang untuk mengikuti Asian Youth Day yang akan dilaksanakan kalau tidak salah di Jakarta. Saya sungguh menanti-nanti akan hal ini sejak Asian Youth Day 2014 di Korea Selatan. Semoga saya bisa mempunyai dana yang cukup dan waktu luang untuk bisa mengikuti Asian Youth day 2017 di Jakarta. Semoga saya bisa bertemu dengan Sri Paus Fransiskus di acara tersebut. :")


Sebenarnya, mimpi saya untuk dua tahun yang akan datang masih banyak. Namun, yang saya sebutkan di atas merupakan mimpi-mimpi terbesar saya yang sangat ingin saya wujudkan. Bagaimana denganmu, bloggers? What are you going to be in two years?



Tulisan ini ditulis dalam rangka mengikuti event Tantang Menulis.

Picutres sources:
  • http://www.ccsf.edu/content/ccsf/en/student-services/admissions-and-registration/records/evaluation-and-graduation/_jcr_content/subheader-image/smallimage2.img.jpg/1370738959078.jpg
  • https://andrewjprokop.files.wordpress.com/2015/03/blogging-is-good.jpg
  • http://www.ensenalia.com/sites/default/files/imagecache/ampliacion/I%20love%20english1.png
Read More »

Sunday, March 15, 2015

Love What You Do

College life is very confusing. I often face some hard choices to choose because I always think about the consequences I will take. Sometimes, I think that that is a normal thing happening when adolescence is going to turn into young adult people. However, I still can not accept that thing and it always disrupt my heart. 

College life has two huge choices that I should choose, academic (GPA, seminars, studying, and assignments) or social (organizations and committees). I personally truly honestly incredibly want to choose both of them. However, dilemma is always there. Because of my disorder (OCD), I always want to do something perfectly. I can always focus on one thing. Then, I prioritized academic over social. 

Most of the time, I feel annoyed by my OCD. OCD makes me to always do everything I want perfectly although I can not do it. I have decided to prioritized academic, yet I can not resist myself to join an organization or some committees. In recruitment process, I said many optimistic answer to the interviewer and they were amazed and hopeful of myself. That time, after I gave my answers, I felt very hopeful, too. Things get escalated very quickly when I am in the middle of the process. I feel very confused of managing my time to academic and social. I always feel confused whenever I get a group assignment, there are some meetings and organizational tasks needed to be done. I feel frustrated too when I know that my lecture orders me to always read the next chapter prior to the next class. It takes a lot of my time. I become more frustrated when I do not get permission to leave organization or committee meetings because of assignments and studying. I come to be unable to handle it.

One day, I vented to my one of close friends about this problem. He has quite good GPA and joins an organization, too. I am really curious of how he can do those two things together. He used to be very funny and sort of childish person. Now, he is grown-up and I am so pathetic. After venting so much, he gave a solution in a very short sentence:

This sentence settles my dilemma now. What I get from this sentence is not that I should love all unwelcome things I do. What I get is that I should carry on what I am doing now, then I should love it as well. I only can do something useful on academic things and makes me enjoyed. All this time, I evidently care too much about what other people say about me. This really influences my life a lot.

Since first semester, seniors have always shouted about "academic is not that very important". I evidently let it enter to my head and ruined my mind. Ever since, I always tried to join some committees and an organization (for now) and make something useful for them. I really put a lot of my effort on that and it seems to be fruitless. That is the power of "always care about what other people say about you".

Now, I reduce that propaganda in my head and try to make it go out of my head. Slowly but sure, I start to be courageous to focus on doing group assignments, individual assignments, studying a lot of chapters, and anything related to academic. In my opinion, focusing on only academic is not completely wrong. Some college students just do that because they think that they are not capable of doing something related to organization or committees. Perhaps, they have tried so many times like myself to join and contribute something on organizations or committees, yet all of their efforts are futile.

I also think that people always want to accomplish something on their lives. I do. In order to do that, some of them take difficult and frustrating ways and others just take bearable and mediocre ways. I take the latter. You should not think that doing something in mediocre ways or in people's comfort zone does not take so much effort. You are wrong! I give all of my efforts on academics. Academics are not my comfort zone. I will always love what I am doing and try not to give any single care to what people say.

God bless you!

Pictures sources:

  • http://mycelium.is/wp-content/uploads/2012/12/Love-What-you-do.jpeg
  • All memes are made by myself using Meme Generator
Read More »

Thursday, March 12, 2015

7 Hal Menyebalkan Ketika Mengikuti Kegiatan Outdoor

Selamat pagi, bloggers. Baru 4 hari absen membuat tulisan di blog terasa seperti vakum menulis di blog selama 1 bulan. Sebenarnya, komitmen saya ketika memulai untuk menulis di blog kembali adalah saya ingin membuat satu tulisan dalam satu hari, atau paling tidak satu tulisan dalam dua hari. Tapi, ternyata perkuliahan di semester 4 ini terlalu kejam, bloggers. Mungkin karena saya terkena OCD, jadi saya dianggap terlalu menganggap perkuliahan ini sangat serius dan egois karena saya hanya fokus terhadap kuliah, belajar, mengerjakan tugas, dan duduk di depan komputer. 

Kali ini saya ingin membagi keluhan saya dan pengalaman saya dalam mengikuti beberapa kegiatan outdoor. Kegiatan outdoor di sini bukan sekadar kegiatan di luar rumah, bukan kuliah, bukan pergi ke rumah teman (please, don't be a herp!). Kegiatan outdoor di sini adalah kegiatan yang mengharuskan saya untuk membawa beberapa pakaian, peralatan pribadi, dan alat-alat yang harus dibawa untuk tinggal di suatu tempat antah-berantah selama beberapa hari. 


Mungkin karena saya seorang OCD (lagi), saya sungguh tidak nyaman dengan kegiatan seperti ini. Saya jadi tidak bisa melakukan semua hal yang menurut saya bisa saya lakukan dengan sempurna dan sesuai dengan harapan saya. Ditambah lagi, karena saya terkena SAD ringan (walaupun ringan, tetap saja sangat mengganggu), saya agak tidak tahan dan susah beradaptasi jika tidak ada teman dekat saya yang ikut kegiatan outdoor yang saya ikuti.

Saya bikin tulisan ini karena sebenarnya saya bakal pergi dari surga (baca: rumah, kamar, dan PC) selama 3 hari, Jumat sampai Minggu. Entah kenapa saya merasa aneh karena hanya di "tempat" ini, acara outdoornya selalu 3 hari, Jumat sampai Minggu. Biasanya, "tempat-tempat" lain mengadakan acara outdoor hanya selama 2 hari, Sabtu sampai Minggu.

Lalu, berikut ini, saya akan sampaikan beberapa hal yang membuat saya tidak suka acara outdoor di samping penyakit SAD saya.

1. Jumlah tas yang dibawa tidak biasa


Berdasarkan pengamatan saya, teman-teman saya (laki-laki) selalu bisa membawa rata-rata cukup satu tas ketika mereka ikut kegiatan outdoor yang tidak lama (2 hari atau 3 hari). Saya seringkali heran, bagaimana mereka bisa membawa dan memasukkan semua barang-barang yang wajib dibawa ke dalam satu tas saja. Dulu ketika saya masih kuliah di FK, saya pernah mengikuti kegiatan outdoor yaitu semacam bakti sosial. Acara hanya 2 hari, tetapi saya bisa membawa tas yang biasa digunakan untuk berpergian jauh (tas pakaian). Namun, dengan perasaan sangat heran, ada beberapa teman saya bisa membawa tas ransel ukuran sedang. Padahal, kami disuruh membawa banyak sekali peralatan mulai dari alat makan, alat mandi, jas praktikum, pakaian sopan, pakaian bebas, jaket, dsb yang menurut saya sangat besar dan tebal sehingga membutuhkan ruang yang banyak. Mungkin, selama ini, saya bisa berbeda sendiri karena saya aneh atau karena ukuran pakaian-pakaian saya yang terlalu besar. 

2. Waktu untuk kebutuhan privasi yang tidak masuk akal 


Mungkin hal ini hanya terjadi di Indonesia atau di negara-negara lain sama. Ini merupakan hal yang sangat krusial dan menyebalkan. Seringnya, waktu-waktu yang berhubungan dengan mengurus kebutuhan privasi yang sering tidak masuk akal. Misalnya, pesertanya berjumlah 30 orang, diberikan waktu selama 1 jam untuk MCK. Namun, kamar mandinya hanya ada dua, sementara mereka hanya diberikan waktu 1 jam. Padahal, acara selanjutnya menuntut para peserta untuk berpenampilan rapih dan bersih. Are you out of your mind? Sungguh aneh, seolah-olah yang mengadakan acara tidak survey tempat yang tersedia untuk MCK terlebih dahulu dan mencocokkannya dengan jumlah peserta yang diprediksi ikut. Apalagi, saya terkena OCD dan hal-hal krusial seperti ini yang membuat badan saya risih sangat-sangat mengganggu. 

3. Fasilitas privasi yang membeda-bedakan gender


Bayangkan saja ketika sedang memilih indekos untuk laki-laki, pasti harganya sangat mahal kalau ingin memiliki fasilitas yang "normal" seperti di rumah. Berbeda dengan indekos perempuan yang harganya bisa sangat wajar tetapi sudah bisa mendapatkan fasilitas yang "normal". Mungkin ketika kalian membaca poin ini, kalian pasti akan berpikir kalau saya itu lenjeh, alay, metroseksual, cemen, cupu, aneh, atau hal buruk yang lainnya. Seperti yang saya katakan di atas, saya memang aneh. Saya memang laki-laki yang aneh. Kembali ke topik! Menurut saya, kebutuhan privasi itu sangat mutlak untuk bisa terpenuhi. Konteks di sini bukan ketika kita sedang dalam kegiatan militer dan pramuka. Coba nih, bayangkan contoh ini, kamar mandi laki-laki tidak menyediakan tempat untuk menaruh pakaian yang hendak dipakai dan sudah dipakai atau bahasa Jawanya cantelan. Bagaimana kalian bisa memenuhi kegiatan privasi kalian dengan tenang? Saya bisa panik dan mood saya langsung jelek ketika mendapat kamar mandi yang bisa membuat saya panik. Contoh lain, laki-laki harus memenuhi kebutuhan privasinya di sungai, sementara perempuan disediakan kamar mandi. Dikira semua laki-laki itu sama atau bagaimana sih? Bagaimana kalau dia OCD seperti saya? 

4. Barang bawaan yang akhirnya tidak terpakai


Ini juga lumayan bikin kesal. Hal ini juga berkaitan dengan poin 1 tadi. Saya sangat kesal jika barang bawaan saya sangat banyak dan membutuhkan lebih dari 1 tas (padahal teman-teman saya bisa membawa dalam 1 tas saja). Mungkin karena acaranya terlalu padat, jadinya ada barang-barang yang tidak dipakai. Ya, walaupun saya memaklumi, tetapi saya pun menyesalkannya. Bagaimana jika barang tersebut ternyata sangat penting di rumah (karena saya tinggal di rumah), orang-orang di rumah sangat membutuhkan barang tersebut, dan saya sudah merengek-rengek untuk meminjam barang tersebut, tapi malah barangnya tidak dipakai? Saya bakal merasa bersalah. Trade-offnya pun ternyata cukup signifikan untuk orang-orang di rumah tapi saya malah tidak memakai barang tersebut. Aktivitas orang-orang di rumah mungkin terhambat dan mungkin mereka bakal marah ketika tahu kalau barang tersebut malah tidak dipakai.

5. Meminjamkan barang kemudian tidak pernah kembali


Kalian pasti akan berpikir kalau saya itu pelit. Well, you have the right to say that way. Tapi, barang yang saya bawa selalu bukan barang yang saya beli dengan uang saya sendiri dan seringkali bukan barang yang digunakan oleh saya sendiri. Contoh saja tikar (peristiwa ini terjadi saat semester 3 ketika sedang masa-masa penyambutan mahasiswa baru). Saya meminjamkan tikar, lalu tikar tersebut hilang dan tidak bisa ditelusuri asal-usul kenapa tikar saya bisa hilang. Agak tidak masuk akal karena tikar bukanlah barang yang kecil. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan tikar yang hilang tersebut karena kami memiliki lebih dari satu tikar. Masalahnya, orang tua saya yang kebakaran jenggot. Mereka sangat perhatian dengan barang-barang kami (yaiyalah, manusia normal). Karena kasus tersebut, akhirnya saya putuskan (secara pribadi) saya tidak meminjamkan barang apapun lagi ketika saya mengikuti kegiatan outdoor. Daripada saya kena masalah, orang tua nantinya bakal mengomeli saya, ya mending saya ambil tindakan preventif ini. Tapi, kalau barang tersebut hanya terdapat satu buah dan ternyata hilang, bagaimana saya tidak kesal? 

6. Mengeluarkan uang lagi untuk membeli barang yang tidak saya punya


Hahaha ini juga sangat menyebalkan. Ketika ikut suatu acara, pasti bakal ada biaya pendaftarannya dan itu biasanya sudah sangat banyak. Saya masih menerima dan memaklumi. Kemudian, saat technical meeting, ada barang-barang yang tidak saya punyai. Di situ saya mulai kesal. Masalahnya, saya tidak suka meminjam barang kepada teman saya karena saya takut kalau saya tidak bisa mengembalikan atau barang yang saya pinjam itu tidak kembali ke teman saya seperti sebelum saya pinjam (tapi saya tidak enggan untuk meminjami barang ke teman saya asalkan teman saya dapat dipercaya). Akhirnya, saya harus beli, kan dan saya harus mengeluarkan uang lagi demi memiliki barang yang harus di bawa sehingga saya tidak bakal kena masalah. Andai saya punya pekerjaan dan pendapatan sendiri, mungkin saya tidak akan terlalu mempermasalahkan ini. Masalahnya, saya masih bergantung sama orang tua dan uang saya itu adalah uang orang tua saya. Terlebih lagi, mereka sudah pensiun dan pendapatan mereka tidak seberapa ketika mereka masih bekerja. Arrgh!

7. Jumlah barang yang harus dibawa yang tidak wajar


Saya sering sekali heran dengan hal yang satu ini. Acara hanya satu malam tapi bawaannya kaya acara enam malam. Hal ini yang sering membuat saya kesal karena saya tahu kalau saya tidak akan bisa membawa semuanya hanya dengan satu tas saja. Alhasil, teman-teman saya keheranan karena saya seperti akan mengikuti acara outdoor tujuh hari. 


Yap, saya memang aneh karena OCD saya. Saya memang sangat saklek. Terima kasih sudah membaca, bloggers. Ada pendapat atau sanggahan terhadap tulisan ini, silakan komentar dengan sopan ya. God bless you! :D


Pictures sources:


  • http://stock-image.mediafocus.com/images/previews/word-facility-on-keyboard-rs1120541259.jpg
  • http://nonsense.sourceforge.net/nonsense-logo.gif
  • http://www.supershuttle.com/Portals/11/PostedImages/packing-overstuffed-suitcase.jpg
  • All memes are made by myself with Meme Generator Free application on Android.

Read More »

Saturday, March 07, 2015

Minggu Pertama di Semester 4


Halo, bloggers. Selamat berakhir pekan! Bagaimana minggu pertama kalian di bulan Maret ini? Semoga penuh dengan keburuntungan. Minggu pertama saya di bulan Maret mungkin agak kurang menyenangkan bagi saya karena saya menemukan beberapa hal yang sangat bertolak belakang dengan sifat saya. Di sinilah sifat OCD dan Social Anxiety saya diuji dan membuat saya frustasi. Kali ini, saya mau berbagi cerita tentang apa yang saya alami selama minggu pertama di Maret ini.

Senin, 2 Maret 2015


Sayang sekali, saya tidak bisa membuat jadwal di mana hari Senin bisa meliburkan diri. First day of lecture or college in the fourth semester. Firasat saya, sih bakalan banyak hal-hal yang berbeda dari first day of college semester-semester sebelumnya. Biasanya sih, kita tidak akan galau mengenai KRS yang belum penuh atau pendaftaran praktikum yang telat. Tapi, kali ini berbeda sekali, bloggers.

Semester ini sungguh membingungkan dan rumit. Praktikum yang biasanya membuka pendaftaran saat kita masih liburan, ternyata dibuka saat sudah masuk dan sangat mepet dengan jam kuliah. Saya kuliah pertama pukul 10.15 dan saya datang ke kampus pukul 09.00 dengan harapan pendaftarannya bakal lancar bagaikan jalanan yang sepi dan bisa membantu mendaftarkan teman supaya bisa sekelompok. Tapi, ternyata saya salah.

Saat dibuka pukul 09.00, kita diharuskan mengantre sambil mengambil nomor antrian. Rasanya saat itu saya seperti sedang antre sembako di balai desa. Lalu, parahnya lagi, kuota kelompoknya tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang akan mendaftar, akibatnya harus membuat kelas lagi dan terpisah dengan beberapa teman. T_T

Selasa, 3 Maret 2015


Hari itu adalah hari pertama di jadwal di mana saya harus berangkat pagi, pukul 07.30. Hari ini di mana saya mulai merasa frustasi dan bingung apa yang akan saya dapatkan di semester ini.

Hari itu, kuliah pagi dengan dosen yang pintar dan komunikasinya sangat bagus. Kemampuan bahasa Inggrisnya pun bagus dan saya kagum. Namun, ketika beliau memberitahu bagaimana penilaian di kelasnya, saya mulai merasa frustasi. 

Beliau ingin para mahasiswa aktif dan bagi yang aktif akan mendapatkan nilai. Karena OCD, saya mulai berpikir, saya pasti bisa melakukannya dan tidak peduli dengan jawaban saya entah benar atau salah yang penting aktif. Tapi, eh tapi, karena OCD juga, saat mau menjawab, saya selalu enggan untuk mengangkat tangan saya karena saya terlalu takut kalau jawaban saya salah dan berpikir kalau salah, pasti ada orang yang ngomongin saya. 

Saat itu, saya mulai galau dan frustasi karena saya OCD dan juga terkena social anxiety. Saya tidak biasa berbicara di depan umum karena ketika saya melakukannya, saya merasa sangat berdebar-debar. Rasanya sangat tidak enak dan bisa menjurus ke panik. Dan saya bingung sampai tulisan ini di buat. 

Rabu, 4 Maret 2015


Akhirnya, setelah semester kemarin saya tidak bisa mendapatkan libur, semester ini saya bisa mendapatkan libur di hari Rabu. Beginilah keuntungan SKS, yaitu bisa membuat jadwal sendiri (dear anak SMA, beginilah kuliah :v)

Rabu kemarin, saya memutuskan untuk tetap di rumah. Haha. Rumah adalah tempat terbaik bagi saya karena saya tidak pernah merasa bosan di rumah. Semuanya itu berkat internet dan PC (thank God!). Hari itu saya menghabiskan Rabu dengan surf YouTube, melihat beberapa video yang kebanyakan adalah family vlogs; juga browse template blog yang pas yang ujung-ujungnya pakai template bawaan (such pathetic). 

Kamis, 5 Maret 2015


Akhirnya, tiba juga Kamis, hari di mana saya kuliah mata kuliah favorit saya. Favorit bukan karena saya bisa menguasainya dengan mudah, tapi karena mata kuliah inilah yang membuat saya selalu semangat untuk melanjutkan kuliah terlepas dari sifat dosen yang berbeda-beda.

Di kuliah makul favorit saya ini, saya senang karena saya akhirnya bisa merasakan kuliah dengan jumlah mahasiswa kurang dari 30 orang. Rasanya seperti rasa lega ketika hidung kita mampet. Biasanya satu kelas itu berisi lebih dari 50 orang. 

Dosennya pun menyenangkan. Beliau lebih banyak cerita namun cerita hal-hal yang membuat saya sangat penasaran, yaitu investasi. Beliau cerita pengalamannya berinvestasi yang menurut beliau bisa menimbulkan keuntungan yang besar. Beliau sebagian cerita mengenai investasi tanah dan rumah. Awalnya, saya tidak tertarik dengan hal seperti itu karena hal tersebut sifatnya gambling. Namun, setelah mendengarkan cerita beliau, saya jadi sangat tertarik. Investasi rumah dan tanah itu tidak biasa karena harganya yang menurut beliau selalu naik. Beliau pernah berinvestasi dengan membeli tanah Rp4 juta entah kapan, kemudian ia jual dengan harga Rp270 juta entah kapan. Mungkin, untuk memotivasi kami, beliau tidak menceritakan kapan karena saya yakin untuk mendapatkan harga demikian butuh waktu yang lama. 


Hari Kamis merupakan hari yang spesial rupanya karena dua makul memiliki cerita yang unik. Makul kedua ini, saya mendapatkan kejutan. Makul inilah pertama kalinya saya mendapat tugas kelompok di semester 4 ini. 

Tugas kelompok sebenarnya merupakan hal yang tidak saya sukai jika dan hanya jika orang-orang di kelompok tersebut terima jadi tok. Saya sungguh tidak suka ketika hanya saya yang bekerja atau beberapa orang yang bekerja tapi ada yang sama sekali tidak bekerja. Hambatan lain adalah ketika kamu tahu kamu bisa melakukannya, tapi karena ini tugas kelompok dan kamu melimpahkan pekerjaan itu kepada temanmu supaya bekerja, namun hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Di situlah muncul serba salah, pengen bilangin teman kita ya salah, diam ya nyesek juga, akhirnya dikerjakan ulang sendiri. Mungkin inilah orang OCD. 

Jumat, 6 Maret 2015


Jumat adalah hari kedua di mana saya punya kuliah pagi. Kali ini, kuliah dimulai pukul 07.00. Sehari sebelumnya, saya stress memikirkan bagaimana cara saya supaya bisa bangun lebih pagi dari biasanya (biasanya saya bangun 06.00). Pagi harinya, saya sebenarnya sudah bangun pukul 05.00 berkat alarm HP saya. Namun, karena efek liburan yang masih kuat, jadinya saya tidur lagi. Kemudian, saya terbangun pukul 06.20 dan saya panik.

Untungnya, saya bisa datang di kampus pukul 06.50 dan melakukan presensi fingerprint. Saya kuliah dengan dosen yang komunikatif lagi dan membuat suasana kelas tidak menjadi membosankan. Beliau ternyata orang yang sangat tepat waktu dan saya sangat kagum. Andai saja, orang-orang seperti beliau, saya tidak menjadi kesal dengan hidup saya di negara ini. Hal ini ada kaitannya dengan time management yang sangat penting di kehidupan kuliah.


Hari Sabtu tidak saya masukkan di sini karena hari Sabtu belum selesai dan saya tidak kuliah di hari Sabtu. Haha. Inti dari minggu pertama kuliah di semester 4 ini adalah saya frustasi. Bagaimana minggu pertama kuliahmu atau kerjamu? Please, don't be afraid to share yours here in the comments!


Source for pictures: 

  • http://thumb1.shutterstock.com/display_pic_with_logo/11994/238790770/stock-vector-university-word-business-collage-vector-background-238790770.jpg
  • http://thepinningmama.com/printablesschool/firstdayofschoolsignscollege.jpg
  • http://i.ytimg.com/vi/qRRemYuSwII/hqdefault.jpg
  • http://media.salemwebnetwork.com/ecards/wacky_holidays/lazyday.jpg
  • http://cdn2.blog-media.zillowstatic.com/1/iStock_000019551430XSmall-4d4312.jpg
  • http://cdn2.blog-media.zillowstatic.com/1/iStock_000019551430XSmall-4d4312.jpg
  • http://www.quickmeme.com/img/98/984f8f7e57f1c2d48ee88f22731d764e2a0e595785d60247264caedb2a9e09db.jpg
  • https://nemohs.files.wordpress.com/2014/01/depositphotos_13559127-always-on-time-punctual-reliability-clock.jpg
Read More »

Tuesday, March 03, 2015

Time Management is Nonsense?


Hello, bloggers. I decide to make this blog as a place for me to vent but not too harsh. The reason is because I want to make this blog keep alive while I run out of any good ideas. Actually, I vent a lot because I can't develop other self-defense mechanism. 

Anyway, let's get into the topic. I'd like to talk about time management. I will write based on my country's college culture. 

As a college or university student, this term is very familiar. I first heard this term when I was in orientation days at my first university (I quit from that university and now I go to my current university). This term is very related to academic and social life of us. My seniors always emphasized us, juniors, that we must be able to do this thing. In my opinion, I really agree on that.


Let's talk about the theory first (these all will be based on merely my opinion). Time management is the art (because it's management so I refer to one of the word I learned about management LOL) of make use of our time such that all of the things we have can be done in a day. 

We are required to be able to make schedule of all the things or responsibilities we have to do. After that, we must make priorities and decide which thing has the highest priority. Then, we do that thing. We should watch the time we need and we have spent. If your time needed for doing that thing is over, you should stop and do the next thing on your schedule. And so on until you have nothing remaining to do.




We can't know the future

When we make a schedule, we estimate that no other things will happen during the time something happening in your schedule. However, you are not God who can control time and know the future. As a result, we sometimes or often are surprised that something suddenly is happening in the middle of our schedule. We can't help but face it and it will ruin your schedule. If you can't finished doing a thing based on schedule, you will as not be able to do the next thing based on schedule. 

We are different from other people

What if you have made schedule perfectly, you have done the thing properly, but other people seem not to know about time management? That is horrible and sometimes frustrating. I usually face this kind of problem in organization. For example
There is a meeting today and we have made schedule for it. Let's say the meeting starts at 19.00. We have arrived on time or even earlier. However, there are many members, even the chief him/herself come late for about one hour and more. Whether we want it or not, as a good member, we have to wait for them so that the meeting can start. The meeting starts at 20.15. On your schedule, we are supposed to leave for home at 21.00 (we have asked the chief about this). However, because there were some member who came late, the meeting can't be finished based on our schedule. Again, whether we want it or not, we have to wait for it and keep joining the meeting until it's finished.
Do you understand? That is very terrible. That becomes like habit among us in Indonesia. If thing ends up like above, our schedule will be ruined. Me, I will be very frustrated and even I can worry so much about my ruined schedule.  

Focus on the time or the result?

This also becomes a dilemma. If we concern about our schedule, we should prioritize the time. Yet, if we concern about the result, we should prioritize the result. Usually, when we concern about the schedule and focus on the time, we can't do the things as perfect as possible. We will work those things perfunctorily. For easy going person, this may not be a big problem. 

What if we focus on the result? We probably can get the things as perfect as we want. We probably will get a very good score of it and we probably will feel very satisfied due to our effort. Nevertheless, we may ruin our own schedule because doing things perfectly needs a lot of time. This thing usually happens on OCD (Obsessive Compulsive Disorder), like me. 

We haven't known ourselves well

This means that we should know our capabilities. We should know what we can do and what we can't do. Then, we look at our schedule and think, "Can I do those thing?" This is related to what if we focus the result. It's not only focusing the result that will spend more time. When we know that we can't do certain things in our schedule but instead we keep going on, we will spend more time to finish it. 

Moreover, will the result be as good as we expect? I don't think so because we know that we can't do that. Sometimes, this can get more horrible if we keep going on. 


The fact that I write above is based on merely my experience. Now, I am still struggling to find the best way to manage my time, especially if it deals with other people that always like to not respect the time. I hope this is interesting to read and I apologize if my English is still horrible. Thanks for reading and God bless you!

Source:

  • http://thumbs.dreamstime.com/z/time-management-words-clock-timer-managing-hours-prioritizing-your-minutes-scheduling-important-moments-events-32993937.jpg
  • http://optionsforher.ca/web/rwx_gallery/thumbs/1329531963_theory_logo.jpg
  • http://archive.freeenterprise.com/sites/default/files/styles/large/public/media/00_LEGAL_shutterstock_34651474_FactMagnify_659px.jpg?itok=y_QoHSiV
  • http://www.troll.me/images/dawson-crying/im-sad-and-confused.jpg


Read More »

Sunday, March 01, 2015

Joyeux Anniversaire, Ma L'École!


Happy Birthday, dear my alma mater, SMA Negeri 2 Purwokerto (Smada) yang ke-65. Sekolah yang hebat, sekolah yang memberikan saya banyak pengalaman. Menurut saya, tahun ini merupakan ultah Smada yang paling meriah semenjak saya mengetahui, bersekolah, dan menjadi alumni Smada. Pihak sekolah melalui OSIS selalu mengadakan Expo Smada dengan beragam tema dari tahun ke tahun.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini merupakan spesial karena tahun ini bertepatan dengan Lustrum ke-13. Lustrum adalah reuni akbar lima tahunan seluruh angkatan Smada dari tahun awal berdirinya Smada sampai angkatan paling muda, 2014. 

SMA Negeri 2 Purwokerto diambil dari linimasa  Facebook adik kelas
Betapa beruntungnya saya, saya telah mengikuti Lustrum dua kali. Lustrum pertama yang saya ikuti dilaksanakan pada 2010 dan acaranya asyik banget. Saat itu, saya masih duduk di kelas X semester dua dan salah satu agenda Lustrum adalah jalan sehat. Pada jalan sehat, seluruh siswa diwajibkan untuk memakai kostum yang menunjukkan kekhasan kelasnya. Berkat ide dari seseorang yang saya lupa siapa, akhirnya kelasku memakai kostum berbagai profesi yang ada di Indonesia. Saya kebagian menjadi dokter (poor myself) bersama Dhea. Ada yang menjadi satpol PP, penari, ustadz, dan lain-lain yang saya lupa detailnya. Dan maaf, tidak ada dokumentasinya karena foto-fotonya telah hilang entah kemana. T_T

Biasanya, Expo Smada diadakan pada tanggal 28/29 Februari atau 1 Maret (maaf saya lupa tepatnya T_T :D). Namun, karena bertepatan dengan Lustrum ke-13, Expo Smada tahun ini dimajukan pelaksanaannya menjadi 21 Februari 2015 dengan tema Supermassive. Sayangnya, saya tidak datang ke Expo karena masalah "pribadi". Hehe :D.

Namun, karena saya melewatkan Expo Smada, saya tidak melewatkan Lustrum ke-13 ini. Acara dilaksanakan pada 28 Februari 2015. Menurut saya, acara ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu acara pagi-siang dan acara malam. 



Part I - Acara Pagi-Siang

Acara pagi-siang dimulai dengan jalan sehat. Sayangnya (lagi), saya tidak mengikuti jalan sehat karena ketidakmandirian saya (aka selalu cari teman biar gak mati gaya di acara). Setelah itu, dilanjutkan dengan penampilan dari Ikhsan Idol dan salah satu artis yang saya tidak tahu namanya T_T (saat itu, saya belum datang). 

Akhirnya, setelah menunggu beberapa jam, sekitar pukul 10.00 WIB, saya akhirnya pergi ke Smada bersama Alfi. Pandangan saya dan Alfi terhadap Lustrum adalah bakalan banyak teman seangkatan (kami angkatan 2012) yang akan datang, paling tidak yang kuliah di Purwokerto. 

Suasana tepat saat kami datang
Tapi, ternyata, sama seperti tahun lalu, angkatan-angkatan 60, 70, 80, 90 mendominasi. Kami datang pun saat acara di mana ada artis yang tampil selesai. Namun, kami tidak merasa bosan atau mutung sedikit pun, malah kami merasa sangat senang. 

Selfie angkatan 2012 :D. Dari kiri ke kanan: Alfi, me, Dewi, Danu, dan Udin
Selanjutnya, kami bertemu dengan Udin, Dewi, dan Danu. Dewi, karena ketekunannya (haha), dia jadi penerima tamu pada saat acara jalan sehat sampai penampilan artis. Udin sedang menjaga stand dagangan baju reuni buatan kakaknya ditemani oleh Danu. Walaupun semuanya dari Unsoed, tapi nuansa reuninya berasa (haha). Sayangnya, setelah selfie di atas diambil, acara pagi-siang pun selesai. Para alumni pergi ke tempat di luar Smada di mana mereka melakukan reuni bersama angkatannya masing-masing. 


Foto bersama alumnus angkatan 1960 :D
Beliau sedang menjelaskan sejarah Banyumas di masa penjajahan :D

Namun, kami sangat beruntung karena kami bisa bertemu dengan alumnus angkatan 1960. Jika dikira-kira, beliau sekarang berusia kira-kira 73 tahun. Namun, beliau masih tampak sehat dan bugar, lho bloggers. Setelah itu, kami diizinkan oleh Tuhan untuk menambah pengetahuan kami, beliau mengajak kami untuk menyimak sejarah Banyumas di masa penjajahan Belanda. Karena suara musik dan nyanyian panggung yang terlalu keras dan posisi duduk saya yang terlalu jauh, saya menjadi kurang bisa memperhatikan dan menangkap semua hal yang dikatakan beliau. Namun, melihat teman saya Udin yang menyimak dengan antusias, beliau di usianya yang sudah senja tetap bisa menceritakan sejarah dengan sangat baik. 
Saya menyebutnya taman depan. Dulu, di situ gak ada pancuran air maupun jalan setapak. 
Saya menyebutnya taman tengah LOL. Dulu, di situ pun gak ada gazebo alami seperti di gambar. Cocok buat pacaran nih #eh
Nah, ini taman belakang. Dulu, di situ hanya ada tanah. Dan lagi, tempat yang pas buat pacaran #eh
Ini yang paling baru menurut saya, semacam rumah kaca. Mungkin buat menunjang praktikum biologi.
Sudah pakai keramik lho. Dulu, masih pakai tegel kaya rumah zaman dulu :D.

Selanjutnya, saya, Alfi, dan Dewi memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan siang. Sebenarnya, tujuan utama saya adalah untuk melihat keadaan Smada sekarang. Ternyata, dengan kurikulum 2013, sistem moving class sudah tidak diberlakukan lagi di Smada. Padahal, moving class itu bisa jadi alternatif diet lho, karena saya selalu berlomba dan berlari ke kelas berikutnya demi mendapatkan tempat duduk yang ideal. Hehe. Sekarang, sedang dibangun Masjid yang megah di lahan di mana dulunya berdiri Musala (saya mengikuti ejaan dari KBBI ya, bloggers) yang saya lupa namanya (gomenasai T_T). Selain itu, bakal ada Bank Mini yang disponsori oleh Bank Jateng (kalau gak salah, soalnya saya gak ambil fotonya). 

Kami juga pergi ke perpustakaan dan penjaganya pun masih sama seperti saat kami masih bersekolah di situ. Uniknya, beberapa buku masih berada di tempat yang sama dan dalam posisi yang sama, tidak berubah selama 3 tahun. Selanjutnya, kami pergi ke kantin untuk membeli soto khas Smada, Haha. Sayangnya, saya tidak ambil foto kantin karena saya lapar. :P. Grafiti di tembok sudah tidak ada tapi Ibu penjual soto masih ada. :D. Setelah kenyang, kami mengambil beberapa foto dulu, lalu pulang.



Part II - Acara Malam

Lebih ramai, bloggers!
Seperti tadi pagi, saya menunggu kabar dari Alfi kapan mau ke Smada lagi. Setelah bergalau ria, akhirnya kami pergi ke Smada kira-kira pukul 20.30 WIB. Tidak seperti tadi pagi yang lumayan sepi, kali ini sekolah dan jalanan pun sangat ramai. Agenda malam ini adalah pagelaran wayang kulit 3D yang didalangi oleh Ki Manteb, Ki Yakut, dan Ki Gandhik. Maksudnya 3D, wayang tidak ditampilkan melalui satu sisi saja, sisi depan, melainkan juga sisi belakang. Jadi, ada dalang yang duduk di depan, ada yang duduk di belakang, sehingga penonton bisa melihat dari dua sisi.

Duduk berdasarkan angkatan dan angkatan 2012 sangat sedikit yang datang T_T

Tidak seperti tadi siang, saya dan Alfi mengisi buku tamu dan bertemu beberapa guru yang sudah berdandan dengan ganteng, cantik, dan rapih. Awalnya, kami duduk di gerbong 12 seperti di foto, menikmati snack dan bertemu Habib dan Dea. Namun, karena Dea dan Habib pulang dan telinga saya tidak tahan dengan suara sinden yang terlalu keras, kami memutuskan untuk keluar dari gerbong. 

Kami akhirnya pergi beli roti canai Ayah yang mungkin sudah menjadi langganan buka stand di acara ultah Smada. Bagi Alfi, roti canai yang dibeli saat itu merupakan roti canai pertamanya. Setelah selesai makan roti canai, saya mulai berpikir, kenapa roti canai tidak dijadikan sebagai pengganti makanan pokok nasi. Kami kekenyangan!!! Padahal kami masing-masing hanya makan satu roti canai. Alhasil, perutku makin gak karuan rasanya dan pahaku makin sesak (lemakku terkumpul di bokong dan paha, bloggers, gak di perut, jadi saya memang aneh). 

Saya tidak bisa mengambil banyak foto karena saya hanya memakai kamera smartphone, bukan kamera DSLR dan cahaya sangat minim ketika keluar dari gerbong. Kami memutari panggung untuk melihat pagelaran wayang dari belakang dan penontonnya pun sangat banyak. Tidak hanya dari alumni, ternyata warga sekitar dan lain-lain juga menonton. Saya berbicara sendiri dan merasa senang mengetahui bahwa acara yang mereka selenggarakan ditonton oleh banyak orang (pesertanya banyak). Andai saja..............ah sudahlah. Haha :p

Well, karena kami kekenyangan dan Udin tidak kunjung datang (kami juga janjian dengan Udin), akhirnya kami putuskan untuk pulang kira-kira pukul 23.00 WIB. 


Semoga alma materku makin bagus, jaya, dan siswa-siswi yang dihasilkan bisa meningkatkan nama dan prestis Smada di mata universitas, kabupaten, provinsi, negara, maupun internasional. Maaf karena terlalu panjang tulisannya. Semoga bisa menikmati. Terima kasih, bloggers. God bless you!

Source: 

  • http://4cmarketing.co.uk/wp-content/uploads/2014/06/Birthday-word-cloud.jpg



Read More »

Saturday, February 28, 2015

Kata Siapa Liburan Di Rumah itu Membosankan?


Halo, bloggers. Bagaimana hari Sabtumu? Saya harap, sih tidak ada kejadian aneh dan buruk yang menimpa kalian. Hari ini adalah H-2 menjelang kuliah perdana di semester empat dan liburan semester tiga selama satu bulan lebih ternyata sudah hampir berakhir; di situ terkadang saya merasa sedih. 

Tidak seperti teman-teman saya atau kebanyakan orang yang menghabiskan waktu liburan mereka untuk melakukan banyak hal yang asyik dan di luar rumah, saya malah memilih untuk liburan di rumah dan di kamar saya yang mungkin bagaikan surga saya di bumi ini.

Namun, liburan di rumah dalam waktu yang lama ternyata tidak sebosan yang kebanyakan orang bilang. Saya malah sangat menikmati liburan semester tiga ini, walaupun bukan liburan terbaik sih. Cukup banyak hal yang bisa dilakukan di rumah ketika di rumah. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah yang bisa membuat saya tidak merasa bosan sama sekali selama liburan kali ini:


1. Menjelajah dunia maya


Source: http://watermarked.cutcaster.com/cutcaster-photo-801067235-Boy-Surf-the-Internet-on-a-keyboard.jpg
Jangan langsung berpikir negatif ketika membaca subjudul yang pertama ini, ya bloggers. Dunia maya memang seperti dunia nyata, ada hal positif dan ada hal negatif. Saya hanya share yang positif saja, ya, kalau yang negatif sepertinya banyak dari kalian yang sudah tahu haha. 

Modal utama adalah PC/smartphone/tablet dan internet. 

Di dunia maya, banyak hal mengagumkan yang bisa kalian temukan. Kalau saya, hal yang paling mengagumkan yang pernah saya temui di internet adalah YouTube. Mengapa mengagumkan? Di sana, saya ternyata bisa mempelajari sedikit budaya negara lain. Tapi, saya menemukannya bukan dari video-video utama mereka, melainkan melalui vlog. Apa itu vlog? Vlog adalah video yang diunggah para pemilik channel mengenai apa yang akan dilakukan ke depannya, alasan mengapa tidak mengunggah video, Q&A sessions, aktivitas para youtuber selain mengunggah video, dan lain-lain. Malahan, ada channel yang khusus untuk vlog dan mereka kebanyakan adalah keluarga. Budaya yang bisa saya pelajari yang paling kentara adalah aksen bahasa Inggris. Aksen bahasa Inggris Amerika tentu sudah sangat familiar, bagaimana dengan aksen bahasa Inggris Irlandia, Inggris Britania Raya, Inggris Spanyol, Inggris Swedia? Hoah, keren-keren sekali, bloggers! :D

Selain YouTube, saya juga mendapatkan tutorial Adobe Photoshop. Bagi beberapa orang yang mahir, mungkin hal ini biasa, namun bagi saya yang sangat payah dalam hal editing foto, saya merasa luar biasa senang. :D. Saya sangat senang karena ternyata untuk belajar Photoshop, saya tidak harus beli buku di toko buku dengan harga yang lumayan tidak terjangkau. Sampai sekarang, saya masih berusaha untuk mempelajari tutorial-tutorialnya.

Sebenarnya, banyak hal yang bisa dilakukan di dunia maya. Namun, dua hal tersebut lah yang menurut saya paling besar yang pernah saya dapatkan dari dunia maya. :D

2. Mengerjakan pekerjaan rumah


Source: http://www.goldsgym.co.id/assets/img/content/housewife.png
Maksudnya bukan PR yang didapat dari sekolah ya, bloggers. Maksudnya adalah membantu orang tua.

Modalnya adalah niat.

Pertama, kalian bisa membantu memasak. Mungkin bagi perempuan hal ini sudah biasa, namun bagaimana kalau laki-laki? Kalau saya, memasak itu sangat mengasyikan. Kita bisa mengenal berbagai macam bumbu-bumbu dapur dan peralatan masak yang mungkin suatu saat berguna bagi diri kita sendiri. Misalnya, ketika KKN kita bisa membantu para warga untuk memasak daripada gabut tidak jelas, atau ketika sedang merantau kita bisa memasak untuk seluruh orang-orang kontrakan daripada beli makanan yang menghabiskan uang jajan kalian.

Kedua, kalian bisa membantu mencuci. Manfaatnya hampir sama seperti di atas, kecuali mencucikan pakaian teman kalian satu kontrakan atau satu kostan :P. Intinya, kalian bisa menghemat uang kalian untuk laundry jika bisa mencuci sendiri jika sedang merantau. Selain itu, kalian bisa pamer ke teman-temanmu kalau tanganmu itu kasar seperti kuli. :P

Ketiga, membantu menyetrika. Pekerjaan ini sangat menipu mata, bloggers. Awalnya, saya kira hanya berdiri atau duduk di depan meja itu tidak menguras keringat. Tapi, setelah saya praktikan, itu hanya omong kosong. Menyetrika itu bisa jadi alternatif bagi kalian yang sedang diet karena keringat kalian akan mengucur deras padahal tidak merasa capek sedikit pun. (y)

Dan masih banyak lagi, ya bloggers. :D

3. Merapihkan kamar




Banyak dari bloggers yang mengeluh kamarnya seperti kapal pecah, kan? Waktu liburan adalah saatnya untuk merapihkan kamar kalian tercinta. Ada yang bilang kalau merapihkan kamar bisa menemukan harta karun yang telah hilang. Benar sekali, aktivitas ini bisa membuat kita menemukan barang-barang lama yang kita tinggal atau tertinggal di tumpukkan-tumpukkan kertas atau buku-buku.

Kegiatan ini salah bentuk latihan tanggung jawab, ya bloggers. Kita dilatih untuk bertanggung jawab terhadap kamar kita tercinta sendiri. Misalnya, kalau kalian punya pembantu di rumah terus kalian minta pembantu untuk merapihkan kamar lalu kalian kaget ada barang yang hilang, kalian akhirnya menyalahkan pembantu. Jangan seperti itu ya, bloggers. Karena sudah besar dan telah dianggap manusia dewasa, kita harus bertanggung jawab terhadap hal-hal yang kita punya, termasuk kamar kita.


Yap, itulah yang saya bisa sampaikan. Tiga hal di atas merupakan sedikit hal yang bisa dilakukan ketika liburan di rumah. Sebenarnya, masih banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan yang bisa saya sebutkan, namun itu tergantung selera masing-masing. Terima kasih, bloggers!



Read More »

Wednesday, December 03, 2014

Being "Kupu" Student is Just Right


Hello, blogger, we meet again this morning. I just want to say that I am such a bad blogger that I am very reluctant to update my blog whereas I got so many ideas in my mind but my mood didn't want me to write those in here. 

What I want to say is about joining a student committee or a student organization in university. In the beginning semester, I was very optimized that I could handle so many bustles if I joined some student committees and an organization. Then, here I am in the 3rd semester of my life in my university and I just come back to who I originally am. I become an not active student again because I just find some disadvantages of joining such things.

Punctuality, this is the main reason I stop joining such things. This is very related to one of main purpose of joining such things, time management. I know this and what I get from this is that we learn to plan how long each of our activities would last. However, I am in Indonesia where late is very tolerable because people can give so many alibis to support why they come late. Moreover, there are sometimes no punishments or even light penalties to it. For the case, here is a real example. There is a committee meeting today and I must attend at 3.00 pm at Hall D (one of my faculty buildings). I have arrived there at 2.45 pm so I have to wait them coming for about 30 minutes (there is 15 minutes late tolerance). It's still okay for me. Then, when it's 3.15 pm, there still very few members coming and the chief doesn't want to start the meeting because all members have not attended. This is very horrible and the time management concept becomes a bullshit. I have planned the meeting will last for about 2 hours if it's started punctually. What if not? My plan is ruined. Some of you will think that this is selfish but I don't think so. What if there is someone else who is the same with me? The committee is important, but ourselves are also important. 

I want to say some things about late. If I can't attend punctually, I will come late definitely. However, I always tell to my coordinator (if I become a staff) or my chief or leader (if I become a coordinator) that I am going to come late. So, the point is we also have to predict our spending time. I always predict what time I am gonna arrive if I go at this time, including the traffic jam. We should always watch our usual speed and max speed when we go by motorcycle or car so that we can predict our spending time. As well, we have to learn the road culture, that if the road is still good or there are some holes, those also can influence our journey to our destination and influence the time we spend too.

I am not a perfect guy and I often procrastinate (waste so much time). However, I always concern about this thing that makes me so confused and so horrible sometimes. Thanks!
Read More »

Most Commented

Add this widget

Most Read

Just Comment